Pages Navigation Menu

Hadiah Terbaik

Posted by on Jan 19, 2011 in cerpen | 0 comments

Rahangnya yang kaku dan keras bergerak naik turun saat mengunyah gulai ayam masakan Ibu. Rambut ikalnya mengkilat oleh minyak rambut dan rapi disisir kebelakang, dia Ayahku . Ibu dengan rambut panjang yang digulung membentuk sanggul, terlihat santai dan sesekali melerai kedua kakak perempuanku yang sedang bersitegang tentang gulai ayam. Kakak perempuanku kembar indentik, tak jarang kami salah menyebut namanya. Mereka bisa mempermasalahkan hal yang menurut kami sederhana, semisal telur mata sapi. Mereka akan protes kalau menemukan kuning telurnya berada di pinggir bukan di tengah!. Mereka tak akan memakannya. Mau tak mau Ibu harus mengulang beberapa kali, sampai kuning telurnya berada di tengah. Aku sendiri adalah si bungsu. Aku punya garis wajah yang tegas, aku punya rambut ikal, aku punya mata setajam elang, seperti punya ayah. Aku sangat mirip dengan Ayah. Hari itu ulang tahunku yang ke tujuh. Aku mendapat...

Read More