Pages Navigation Menu

KETIKA NGAYAH BERUJUNG MUSIBAH

Posted by on Oct 31, 2011 in Lain-Lain | 0 comments

Potret transportasi laut saat ini boleh dikatakan sangat buram. Ironisnya, departemen perhubungan telah mengkambing hitamkan cuaca buruk sebagai penyebab kecelakaan. Padahal banyak faktor teknis dan regulasi yang merupakan penyebab kecelakaan angkutan laut. Ketika ngayah menjadi sebuah musibah, “siapa” yang layak dikambing hitamkan? Ngayah, sebuah tradisi yang sudah dilakukan oleh masyarakat Bali dari sejak dulu kala dan telah mengakar di dalam pribadi masyarakatnya. Kewajiban serta keiklhasan adalah pondasi dari ngayah. Jika dilihat dari segi definisinya, ngayahialah kegiatan mengabdi terkait acara/upacara adat tanpa mengharap imbalan. Dalam sebuah kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu bisa dikatakan sisi lain dari tradisi ngayah. Ngayah yang bertujuan mendekatkan diri dengan Tuhan dan berharap keselamatan bisa menjadi sebuah petaka. Sesobek kabar duka datang dari perairan Jungutbatu, Klungkung. Kapal Motor Sri Murah Rejeki yang ditumpangi warga Dusun Sebunibus tepatnya sekaa angklung (kelompok kesenian dengan gambelan Bali bernama...

Read More

18.00 AM

Posted by on Oct 28, 2011 in Lain-Lain | 0 comments

Puisi adalah perkenalan awal pada sebuah ketenaran bagiku. Puisi juga yang membawa aku menimba banyak pengalaman. Puisi adalah lomba. Puisi adalah kebebasan. Waktu aku kecil, puisi yang membuatku disegani. Itu kiprah awalku dengan bahasa juga sastra. Yang akhirnya membuatku memilih masa depan dan berserah diri padanya. Remaja, aku kembali berjumpa dengan puisi yang kembali membuat aku disegani kawan-kawan baruku. Aku si Pemalu tak pernah bermimpi akan terjadi hal seperti ini. Semakin menginjak umur, aku mulai melupakan puisi. Aku milai menulis komposisi. Hasilnya, aku kembali disegani lewat jalur ini. Aku mulai meretas mimpi, aku mulai yakin, dan semoga saja keyakinanku tidak mengecewakan. Akhirnya aku terbiasa dengan dunia baruku dan mencoba lagi menyibak sekat untuk menemukan dunia lamaku. Aku masih...

Read More

Tiga Malam di Awal Oktober

Posted by on Oct 27, 2011 in Lain-Lain | 0 comments

Jangan bunuh lenguhan itu, mereka tak salah.Sebab sekiranya kalian melihat utuh-penuh tubuh-tubuh tak berhalang ketika itu biarkan saja. Cinta, kata mereka adalah lenguhan dua insan saat temaram membungkus sudut-sudut kamar.Yang bicara adalah cahaya.Yang dikonstruksi, dikomposisi. Sebuah riwayathistoris adam hawahawa bersabda:hanya dimataku cintanya terpantul indah Malam pertama. Lenguhan terjadi mendebarkan, mencabik-cabik dinding penyekat kotak 2×2 m. Malam kedua. Lenguhan menjadi-jadi. Malam ketiga. Lenguhan kini bercerita, tak berucap, tapi saling mengerti. Tetes keringat mengalir mencoba menjawab. Mereka menggurat malam-malam dengan lenguhan-lenguhan merekah. Meninggi bersama lenguh demi lenguh, saat hari akan segera menutup mata. Esok pagi menyisakan buih-buih lenguhan. Menyisakan nikmat dosa. Esa Bhaskara...

Read More

SAAT KUALITAS PENDIDIKAN MENJADI TARUHAN

Posted by on Oct 24, 2011 in Lain-Lain | 0 comments

Sejumlah bupati/wali kota kini semakin banyak yang ikut campur dalam pengangkatan, pemindahan, pemerhentian kepala sekolah dan tentu saja kepala dinas sampai penerimaan siswa baru. Mengerikan. Dunia pendidikan kini dipolitisasi. Otonomi daerah disalahgunakan. Cepat atau lambat hal itu akan mengancam kualitas pendidikan nasional. Beberapa tahun yang lalu ayah saya yang seorang guru ditugaskan menjadi KPU pemilihan kepala desa. Karena pekerjaan dadakan itu, ayah hampir saja dipindah tugaskan ke daerah pelosok di kabupaten tempat kami tinggal. Seorang anggota DPR menekan ayah agar memenangkan salah satu calon pada pemilihan kepala desa itu. Jika dipikir-pikir, apa hubungan ayah saya yang seorang guru bisa dipindah seenaknya hanya karena malah politik. Memang tidak ada hubungannya tapi pemindahan itu bisa saja terjadi dalah waktu kurang dari 48 jam. Inilah hanya contoh kecil “kesaktian” otonomi daerah yang berlaku di dunia pendidikan. Dunia pendidikan nasional ibarat pencetak teroris....

Read More

POHON

Posted by on Oct 16, 2011 in Lain-Lain | 0 comments

Tak perlu menunggu maut melesat bersama peluru samar terlihat sabit menonton maut merenggut pohon tak berdaya, disantap kanibal gas bukan salah siapa-siapa. Hari ini pun kau akan diantar ke hari-hari kering gersang penjara gersang lalu tinggal pilih, surga atau neraka ketika pemilik wajah-wajah hilang. Pohon-pohon tak lagi lahir dalam rimba rimba-rimba tak lagi tersenyum senyum-senyum pohon meruncing tajam runcing-runcing tajam pohon-pohon gersang memangsa manusia. Sepertinya kita perlu ilusionis untuk menciptakan ruang-ruang hijau taman, makam, hutan, danau hijau, pohon, pekarangan, paru-paru kota. Tak perlu melibatkan tuhan dua hari sebelum malam itu, sedang ku telusuri malam terakhir kukira mereka mati, ternyata hanya tersiksa tertusuk kering lidah terjulur retak. Terdengar, aku mendengar, sekali lagi, jeritan pohon ia menyesal bila bocah-bocah tak berhasil lari. ilustrasi 🙂 Esa Bhaskara Jalan P. Bali, 14 Oktober...

Read More