Pages Navigation Menu

Perjaka Senja

begitu senja menutup mata, dan lampu-lampu tak lagi menyala
malam ini ku nyalakan api
nafasmu menguap
aku mengeja atap rumah berdebu

seorang perjaka bertelanjang menunggu perawan
hanya saja, tak satupun perawan tersisa di tanah itu
jendela menatap angkasa kosong. sekosong tatapan perjaka putus asa
jalanan kampung itu masih menyimpan amarah. amarah sang perjaka yang marah karena tak satupun perawan disisakan untuk dirinya

perjaka lirih. di emperan toko perjaka diam menatap jendela kaca
menatap raut muka kusam, kumbal, kucal
dua ekor merpati terbang diantara itu, mengibarkan rambutnya yang gelisah
perjaka mulai rapuh

perjaka tak lagi diam. ia mulai memburu keadilan untuk dirinya sendiri.
ia memerangi birahi-birahi tanah seberang
agar mendapat perawan, katanya.

ilustrasi 🙂

2011

2 Comments

  1. gadis perawan menggenggam lencana mawar
    menelusuri kemegahan kota
    transaksi nafsu segepok rupiah
    darah tersunyikan dalam selimut putih
    perut buncit memakai dasi meninggalkan bisu kamar
    menjejakkan wanita bersetatus gadis tak perawan
    untuk apa mahkota ini?
    jika cerita sepasang merpati dipercaya
    sebagai anutan memilih akhir pasangan hidup

  2. perawan dan perjaka bukan sebuah kehormatan
    ketika darah pertama terurai
    ketika lubang melonggar
    tak lagi masalah
    kini cinta
    kini nafsu
    tak lagi pernah bisa disekat

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *