Pages Navigation Menu

Bendera

Posted by on Jan 26, 2012 in cerpen | 0 comments

“Berkali-kali aku bilang, bahwa aku tak pandai menulis puisi, tapi karena aku mencintai kekasihku, maka aku akan meminta tolong pada pujangga untuk membuatkan puisi.” Sudah aku bilang, aku tak lihai merangkai kata-kata indah yang mampu menyayat hati merah muda kekasihku, jadi aku tak akan pernah mengiriminya surat cinta dibungkus amplop berwarna pink.” “Bukannya kamu pandai merangkau kata hingga para pendengarmu dan pembaca karya-karyamu begitu terhipnotis setelah mengunyah-ngunyah karya-karyamu?” “Ia, tapi aku tak pandai menulis puisi. Aku juga bukan pria yang romantis. Aku tak biasa memberikan surat dan puisi kepada kekasihku. Aku mencintai mereka apa adanya. Tak pernah aku berbohong soal hati”, seloroh Gus Tu meyakini Pradnya. “Tapi aku akan mengalir ketika kamu memintaku bercerita tentang bendera.” “Bendera?” “Ia. Bendera! Ada yang aneh?” “Heemmm…tidak, ceritakan, Gus!” Gus Tu mulai bercerita. Ketika itu, Aku sedang berlibur di rumah Nenek di Desa...

Read More

Langit

Posted by on Jan 25, 2012 in Lain-Lain | 0 comments

maka biarkan aku menjadi langit dan kau menjadi warna senja, meski kita hanya bertemu ketika senja tiba itu cukup membuat senyumku menyeringai tak apa, acuhkan saja diriku, dan setialah dalam kebisuanmu tak apa, aku akan menunggu sampai kau memuntahkan kata-kata yang sudah kau telan sedang aku telah membaca senymmumu sedang aku dan angin telah melukis tubuhmu menjadi harapan tak apa, tak mengapa padamu, hei gadis senja, kapan kau buka? topeng dan pintu hatimu yang...

Read More

Curhat Seorang Teman (Part II)

Posted by on Jan 22, 2012 in artikel | 0 comments

Pertama kali suka menulis sejak SD, saat itu aku mendalami puisi dan tiap lembaran buku akan kuhabiskan untuk menulis puisi. Meski masih amatir. Pada saat SMP, Aku sudah ingin menulis cerpen tapi aku merasa tak mampu. SMA, aku berusaha untuk ikutan lomba cerpen di pondok karena yang menang jadi pengurus mading. Tapi bukan itu keinginanku. Aku kalah saat itu dan sejak itu aku melupakan semuanya. Aku hanya akan jadi konsumen sebuah karya saja. Sejak saat itu juga aku benci puisi karena aku selalu beranggapan bahwa puisi itu hanya ditulis oleh para lelaki gombal. Aku menghentikan semua aktifitas menulis cerita fiksi, aku hanya menulis pelajaran akuntansi yang lebih menyebalkan. Perlahan semua berubah sejak aku kuliah. Tapi baru semester 2 aku mencoba menulis lagi dan menghasilkan 1 cerpen yang mampu kunikmati sendiri. Karena aku tak punya pembaca. Mereka lebih suka berkomentar...

Read More

Curhat Seorang Teman

Posted by on Jan 21, 2012 in artikel | 0 comments

Menulis adalah hobiku. hobi yang sudah ada sejak kelas 4 SD. Awalnya cuma nulis puisi. Setelah duduk di kelas 9, aku mulai suka menulis. Awal niatnya menulis cerpen, tapi kepanjangan sampai aku terusin jadi novel. Sampai sekarang sudah ada hampir 5 novel yang ku kerjakan. Tapi baru selesai 2. Hehehe… ;D Setelah masuk ke SMA, aku mulai serius mendalami sastra. Aku menggunakan media jejaring sosial ( facebook ) untuk berinteraksi dengan penulis – penulis berbakat Indonesia. Dan alhamdulillah, aku dapat banyak pelajaran dari mereka. Karena memang hampir 75% temanku adalah penulis. Jadi hal itu semakin membuatku dekat dengan dunia kepenulisan. Banyak even lomba menulis yang ku ikuti. Dan alhamdulillah, ada salah satu lomba yang dimana aku masuk salah satu penulis yang karyanya akan di bukukan. Sekarang sedang dalam proses pengajuan ke penerbit. (#kalau sudah terbit, pada beli buku antologiku...

Read More

Melodi

Posted by on Jan 15, 2012 in Lain-Lain | 0 comments

burung hantu berhenti melantunkan MELODI setan dari kerongkongannya. dia bukan lelah, hanya saja sedang tertarik pada sesuatu, pada seorang pria yang bergerak sendiri di balik malam. manusia itu berwajah SENDU dengan kemeja acak – acakan -beberapa kancingnya lepas- yang berbercak darah. entah itu darahnya, entah bukan. dia hanya terus berjalan dengan kepala yang menunduk menatapi tanah. jiwanya telah direnggut oleh malam. dari atas dahan yang tak terlihat burung malam menatapnya dengan kepala miring. mengeluarkan senyum sembunyi – sembunyi di balik paruhnya. ia suka dengan keadaan ini. kelam. hingga akhirnya ia melanjutkan SIMFONI ketakutan untuk menemani...

Read More