Pages Navigation Menu

Masih Pagi, Tapi Rindumu Sudah Menggenang Di Atas Cangkir Kopi?[i]

Gelap ketika aku meneguk kenangan. Sudah hilang memang. Tapi aku mengais-ngais kenangan dalam gelap. Siapa tahu masih ada yang lekat di sana. Ketika gelap aku membutuhkan cinta. Cinta yang lain.
Semua berawal ketika kita ditempatkan dalam ruang kerja yang sama. Kamu rekan kerja baruku. Kamu satu, mungkin yang terindah, dari segelintir wanita yang ada di sekitarku. Kamu, aku rasa ketika itu, percikan embun pagi saat kemarau dalam hatiku. Jutaan wanita memang berkeliaran dan seringkali membuatku liar saat melewati setiap detik bersama. Selain kamu, juga ada Aya dan Irene yang merasakan suasana baru di tempat ini, sama denganmu. Aku tak pernah meraba-raba, tapi benar-benar rasanya berbeda. Aku merasakan!
Pertemuan itu memang tak pernah aku agendakan. Kamu terkejut, aku takjub. Mungkin juga kita pernah bertemu sebelumnya, karena kamu sudah berada di tempat yang sama denganku sejak beberapa waktu yang lalu. Tapi kita tak pernah menyadarinya. Aku tak pernah merasakannya.
Ketika berdua, kita menatap. Saling menatap seakan hanya ketika itu hari terakhir kita bisa saling bertatapan. Saling menyentuh. Dan lenguhan menjadi klimaks pertemuan itu.
Malam itu, meski suasana di kantor yang cukup ramai karena lembur, aku yang ada di depanmu hanya memandangmu tanpa bisa mengucapkan kata, seperti biasa. Aku hanya berdiri. Menatap lurus pada bola-bola matamu yang indah. Tak kalah indahnya, bibir mungil itu selalu menyimpan sesuatu yang bergairah untuk hatiku. Beberapa menit lewat, aku masih belum berucap.
Mungkin….
Detik detik terbuang sia-sia. Menit menit pertemuan kita hanya terisi kebekuan. Harusnya kita selalu cair untuk menyatu dalam proyek-proyek yang harus kita selesaikan. Walau masih beku, lambat laun mulai meluber juga dan akhirnya aku berasil berucap. Satu kata. Satu frase. Satu kalimat.
Selalu seperti itu sepanjang pertemuan kita. Malam pun berganti pagi. Pagi pergi, malam datang lagi. Dan kau masih di sekitarku. Aku masih di sekitarmu. Kita mulai banyak berbicara. Kita mulai sering bercanda. Malam-malamku mulai terisi wajahmu, senyum manismu, bibir mungilmu. Hingga malam berlalu, berganti pagi. Pagi pergi, malam datang lagi. Kamu masih di sekitarku.
Setiap malam senyummu menyusup dalam mimpi-mimpiku. Dan tak terasa sudah ratusan malam senyum manismu ku nikmati, hingga akhirnya mulai ku kagumi, mulai ku rindukan, tak pernah ingin ku lewatkan. Ya, aku merindukanmu.
Mungkin….
Aku menyadari tak akan setiap waktu bisa menemuimu. Kini telah sedikit berubah. Keadaanya sedikit berbeda tapi banyak pengaruhnya. Kita hanya bisa bertemu kala gelap. Mengapa gelap? Karena cinta. Aku tak tahu jawaban yang lain.
Begitu juga perasaan di hatiku. Aku tak dapat mendefinisikannya. Atau mungkin aku terlalu takut mendefinisikan, sehingga perasaan ini ku biarkan. Lambat laun makin menusuk setiap jengkal pikiranku. Entah apa namanya, aku tak ingin mencarinya dalam kamus-kamus di perpustakaan, aku juga tak mau menanyakan ini ke psikiater, aku hanya ingin menikmati saja.
Malam pun datang bersama bulan dari arah yang berlawanan dengan pagi. Kadang terlihat cerah berbinar, kadang redup tertutup awan. Aku makin tak mengerti. Tak seperti senyummu yang malam itu terlihat semakin manis di mataku. Mengalir dalam desir darahku, menuju jantungku.
Menggetarkannya, memacu degupnya. Aku mungkin mengerti, aku merindukanmu. Aku hanya memandang bulan yang belum bundar sempurna.
Hal yang paling ku takuti adalah dibenci oleh perempuan karena perasaan seperti ini. Tiga tahun sebelum bertemu denganmu, ku rasakan hal itu. Dibenci karena rasa ini. Aku tak ingin hal itu terulang. Aku juga tak mau malu karena ulah rasa yang sama. Ini juga pernah aku alami beberapa tahun lalu. Tapi anehnya kini aku tak tahu, aku takut kau membenciku aku juga tak takut malu lagi. Tapi aku tak berucap. Aku malu.
Hingga saat malam datang bersama bulan yang tak terlihat karena awan begitu pekat. Aku tersentak, hatiku berontak, kebenaran terkuak. Aku tak sendiri selama ini. Aku merindukanmu di belakang istriku. Bulan enggan muncul lagi hingga datangnya pagi.
Malam-malam berikutnya seakan hampa. Seakan ada lubang besar di dalam jiwa. Walau senyummu masih menghiasi wajahmu, tapi bukan untukku. Aku merasa tak pantas lagi. Senyum yang masih saja manis, seperti pelangi yang berlapis-lapis walau sedikit membuat hati ini teriris. Dan lesung di pipimu, terus saja menyiksaku. Ingin rasanya ku ambil darimu semua keindahan, ku rekatkan pada bintang, ku terbangkan menuju bulan agar bisa ku nikmati setiap malam.
Kini, ku masih menikmati senyummu yang masih terbias di wajah bulan yang masih datang setiap malam. Senyum yang masih memacu degup jantungku.
Suatu saat nanti akan ku habiskan seluruh malam bersama bulan. Ditemani secangkir kopi, sekumpulan kenangan, dan beberapa lembar senyummu. Ku ceritakan pada bulan suatu kisah tentang ini yang akan ku kuburkan di batas langit dan bumi, di penghujung malam, di awal pagi. Aku mengaduk-aduk perasaan ini dalam secangkir kopi dalam gelap. Gelap favorit kita.


[i]Terinspirasi dari salah satu twit milik Djenar Maesa Ayu tertanggal 2 Februari 2012

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *