Pages Navigation Menu

Sastra Tidak Sekadar Buah Khayalan

Posted by on Jul 22, 2012 in essai | 0 comments

Beberapa waktu lalu, novel Anak Sejuta Bintang (ASB) sempat menuai banyak kritik pedas. Novel karangan Akmal Nasery Basral ini menceritakan kisah masa kecil Aburizal Bakrie. Dan karena itu lah penulis yang juga aktif di media mikroblog twitter, Goenawan Mohamad ini sempat mengecap novel ABS sebagai “sastra pilpres”. Novel ABS ini dicurigai sebagai novel pencitraan. Tetapi penilaian masih sebatas kitrikan secara kasar. Karena belum tentu penyair senior yang memposting kicauannya (tweet) pada 29 Januari 2012 lalu itu membaca secara menyeruluh teks dalam novel ASB. ABS adalah novel yang mengandung motivasi dan (katanya) edukasi. Tetapi permasalahan yang akan saya bicarakan bukanlah masalah apakah sosok Ical – panggilan Aburizal Bakrie – cocok, atau menginspirasi atau tidak. Yang menjadi sorotan saya adalah munculnya kisah-kisah inspiratif dan motivatif akhir-akhir ini. Dan novel-novel yang berkisah seperti itu laku di pasaran, bahkan mendapat predikat bestseller. Sejak...

Read More

Tidak Harus Buah Jatuh Dekat dari Pohonnya

Posted by on Jul 21, 2012 in artikel, sehari-hari | 0 comments

Orang tua disebut teladan karena memang bisa menjadi contoh. Ini disebabkan karena para orang tua telah lebih dahulu mengalami. Teladan keutamaan hidup perihal nilai-nilai yang mewujud dalam prilaku sehari-hari. Mengingat zaman digital ini makin jamak bahtera keluarga yang karam karena krisis keteladanan. Mata anak-anak yang masih bening, dipaksa merekam perilaku kasar, kejadian-kejadian sengit itu akan disimpan si anak hingga dewasa. Kelak, anak-anak seperti ini cenderung mengalami masalah dengan mentalnya. Journal of Epidemiology and Community Health telah membuktikannya. Suatu hari saya melihat seorang anak manja, yang dengan ‘tidak merasa bersalah’ berteriak-teriak di keramaian pusat perbelanjaan. Lalu beberapa waktu berikutnya, saya bertemu anak yang tidak bisa ‘diam’ ketika diajak ke sekolah oleh orang tuanya yang kebetulan seorang guru. Si anak berlari kesana-kemari di lobi sekolah, meloncat-loncat, hingga mencolak-colek siswa yang sedang berjalan tidak jauh dari anak itu bermain. Dan dengan sok...

Read More

Pemuda dan Bahasa

Posted by on Jul 11, 2012 in essai | 0 comments

Sering kita mendengar, membaca, dan menonton berita tentang keterpurukan bahasa kita, bahasa Indonesia yang dibuktikan dengan nilai mata pelajaran bahasa Indonesia yang menjadi mesin pembunuh ketidaklulusan siswa. Berita ini tersebar luas melalui banyak media: radio, TV dan media cetak, seperti koran, majalah, dan tabloid, bahkan situs jejaring sosial seperti facebook dan twitter. Hasil ujian nasional untuk tahun ini pada mata pelajaran bahasa Indonesia ternyata masih ada yang rendah, sampai pada nilai 4,20. Fakta ini semakin menyoroti pembelajaran bahasa Indonesia yang ‘seakan’ semakin sulit di mata siswa, siswa menganggap remeh dan sangat menggampangkan pembelajaran bahasa nasional kita ini. Mereka menganggap bahwa bahasa yang mereka gunakan sehari-hari sudah bisa dikatakan bahasa Indonesia yang baik, atau setidaknya berfungsi dengan baik. Lalu untuk apa belajar lagi? Mungkin itu yang ada di batin mereka. Keterpurukan nilai bahasa Indonesia dapat terjadi karena dua faktor yaitu...

Read More