Pages Navigation Menu

Esai Pendek: Modernisasi dalam Pelestarian Budaya

Posted by on Feb 26, 2013 in essai | 0 comments

Pelestarian budaya hendaknya melibatkan generasi muda. Ini penting karena generasi mudalah yang akan menjadi penerus dan pemegang warisan budaya di masa depan. Untuk merealisasikan misi ini hendaknya kegiatan pelestarian budaya dilakukan melalui langkah-langkah yang modern. Hal ini agar lebih menarik minar generasi muda yang hidup di masa modern seperti sekarang. Pada zaman modern seperti ini, pelestarian kebudayaan bisa melalui program radio, televisi, film, internet, dan media cetak. Jika kebudayaan disajikan dalam bentuk-bentuk seperti ini, generasi muda pasti akan tertarik karena kebudayaan bagi mereka tidak kuno dan ketinggalan zaman. Senang sekali karena langkah-langkah seperti inilah yang sudah mulai dilakukan. Ambil saja contoh program televisi word of wayang yang disiarkan kompas tv yang semakin mendekatkan wayang terhadap generasi muda karena disajikan dengan cara modern. Kasus lain adalah lagu pop Bali. Secara tidak sadar, melalui lagu pop Bali, bahasa Bali telah dilestarikan...

Read More

20 Paket Soal UN dalam Perspektif Saya

Posted by on Feb 17, 2013 in essai | 0 comments

Format kelulusan siswa dari jenjang pendidikan yang cenderung berat ke nilai UN tidak tepat dan terkesan sudah “merampok” hak yang sejatinya harus menjadi hak penuh para guru. Dalam stiap pengumumam kelulusan siswa, seringkali guru terpaksa hanya mengelus dada lantaran menyaksikan banyak sekali siswa-siswa berprestasi “rontok” di UN. Sementara siswa yang dinilai kurang berprestasi justru bisa melenggang mlus karena nilai UN-nya justru melampaui siswa-siswa yang berprestasi. Ini nyata! Proses pendidikan selama tiga tahun (di SMA dan SMP) terasa sia-sia, tidak berarti apa-apa karena bisa dipatahkan dengan UN yang hanya berlangsung selama tiga hari sampai empat hari saja. Sungguh miris. Semua menjadi bias, karena tak ada jaminan siswa-siswa yang berprestasi lulus dengan mudah. Sebaliknya siswa yang tidak berprestasi mendadak menjadi istimewa karena nilau UN yang didapatkan melambung tinggi meskipun terselip keraguan prestasi yang mereka peroleh dengan cara-cara yang tidak fair. Apalagi...

Read More

Tidak Hanya 14 Februari

Posted by on Feb 14, 2013 in essai | 0 comments

Memaknai cinta dan kasih sayang tidak dapat menggunakan teropong terbalik. Perspektif ini menyebabkan penyempitan makna terhadap objek sehingga apa yang seharusnya luas dan besar terlihat menjadi sempit dan kecil. Ini dilakukan agar kita tidak memaknai cinta dengan sempit. Salah satu contohnya adalah ketika para remaja saat perayaan valentin atau hari kasih sayang. Sebuah hari ketika Februari, di mana cinta dan kasih sayang seakan sempit dan dangkal. Cinta yang sejatinya mengandung makna begitu mulia, dipersempit menjadi sebatas cokelat dan bunga mawar. Cinta yang seharusna memiliki jutaan warna berubah menjadi warna pink saja. Cinta yang seharusnya terjadi dengan ikatan suci berubah menjadi murahan dengan janji gombal tak berarti. Lebih parah lagi, kasih sayang yang mestinya ada setiap saat, setiap waktu, dan setiap hari, tiba-tiba jadi raib dan hanya didapatkan pada 14 Februari saja. Cinta dan kasih sayang itu ada ketika seorang...

Read More