Pages Navigation Menu

Cinta dan Konsekuensinya

Cinta dan Konsekuensinya
Benar atau salah, setiap tindakan pastilah ada konsekuensinya. Dari hampir semua pengalaman yang saya miliki, terutama tentang (ehem) jatuh cinta, saya pun menjadi semakin mengerti bahwa setiap tindak-tanduk saya memiliki konsekuensinya masing-masing.
Jatuh cinta pada dasarnya adalah sebuah tindakan yang mengantarkan saya pada berbagai konsekuensi. Konsekuensi paling mendasar adalah patahnya hati saya sendiri. Konsekuensi lainnya adalah saya harus memulai suatu hubungan dengan manusia lain, yang pada akhirnya mungkin menjadi pendamping hidup saya–walaupun saya juga belum berpikir sampai sejauh itu. Bila tidak bisa jadi istri, ya paling jadi mantan pacar saja. Sederhana, kan? Ya, sesederhana itu. Tidak, sebenarnya tidak sesederhana itu. Konsekuensi jatuh cinta lebih dari itu.
Jatuh cinta bisa membuat saya belajar banyak hal, terutama tentang memahami orang lain. Saya bisa belajar lebih jauh tentang seseorang yang bahkan belum saya kenal sama sekali. Semuanya benar-benar baru sekaligus menantang. Saya sih, suka tantangan. Meskipun saya sadar tidak semua tantangan bisa saya lewati dengan mudah seperti membalikkan satu telapak tangan. Dan lagi, proses belajar banyak hal dalam jatuh cinta juga tidak selalu berjalan mulus. Selalu akan ada tawa dan air mata dalam perjalanannya.
Berulang kali saya diingatkan tentang si A, B, atau bahkan Z. Saya diingatkan tentang berbagai kemungkinan dan risiko yang akan muncul di hadapan saya. Saya tahu persis, bagaimana semua itu akan kandas dan berakhir begitu saja. Akan tetapi, rasa penasaran selalu berhasil membuat saya membiarkan fenomena jatuh cinta hadir begitu saja. Naksir, ditaksir, sayang, disayang, suka, disuka, cinta, dicinta… Eh, cinta? Saya sendiri pun tidak tahu pasti apa itu cinta. Apapun itu, fenomena jatuh cinta yang hadir selalu membuat saya tergelitik. Ada bunga matahari yang mekar di dada begitu bisa berbagi banyak hal dengan orang itu. Sebaliknya, bunga matahari itu langsung menguncup kembali saat saya dan orang itu tidak bisa berbagi apapun; obrolan, cerita, pengalaman, dsb. Ah, masak saya harus dikelabuhi oleh sesuatu yang tidak pasti? Yang jelas, semua ini menyenangkan. Ya itulah cinta.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>