Pages Navigation Menu

Nenek

Nenek

Di dekat pohon jepun, Nenek menghentikan langkahnya, menelusuri batang, dahan, serta ranting yang bulat bergerigi sampai ke pucuk. Bunga jepun putih ini tak pernah malas mekar. Batang bambu yang selalu digunakan untuk mengait kuntum-kuntum bunga bersandar di salah satu dahan. Nenek dan pohon jepun bagai sejoli yang sedang melepas rindu. Senyum merekah keduanya seperti dua kekasih yang lama terpisah.

Entah sudah berapa ratus bunga yang telah Nenek petik dari pohon itu. Mungkin sejak aku belum lahir. Karena saat aku lahir, pohon jepun ini sudah berdiri gagah di sebelah merajan, setidaknya begitu cerita perempuan kurus ini. Pohon ini masih seperti dulu, berseri dan selalu menyapa ramah setiap orang yang akan memetik bunganya. Pohon ini tak pernah berhenti berbunga. Bila satu bunga dipetik, Ia akan menumbuhkan sepuluh bunga baru.

Nenek selalu membalas budi kebaikan pohon jepun dengan memberikan sesajen pada Tumpek Uduh. Nenek juga merawat pohon jepun, juga pepohonan yang lain dan memberikan kasih sayang sama seperti Ia menyayangi anak-anak dan cucu-cucunya. Kadang Nenek juga bercakap-cakap dengan pohon jepun. Sekuntum bunga jepun yang lepas dari ranting berputar-putar seperti baling-baling helikopter sebelum akhirnya menyentuh hidung Nenek. Nenek tersenyum.

Selain pohon jepun, Nenek juga memiliki sahabat lain yaitu pohon kembang sepatu, sandat, jempiring, ratna, gumitir, dan pacar. Mereka berada bertebaran di sekeliling rumah. Nenek selalu menyapa mereka tiap pagi lalu memetik bunganya. Inilah kegiatan rutin Nenek setiap hari. Nenek memerlukan banyak bunga untuk membuat canang sari. Meskipun begitu, kebutuhan bunga untuk canang sari setiap hari bisa didapat di sekitar rumah. Pandan arum juga tumbuh subur di belakang merajan. Kata Nenek, Ia yang menanamnya dulu. Untuk janur, biasanya Ibu yang membelinya di pasar. Nenek tinggal nanding saja.

Nenek membuat semuanya sendiri, mulai dari paporosan hingga menjadi bentuk canang sari yang indah. Aku begitu kagum akan kelincahan tangan Nenek dalam mengiris pandan arum. Tangan Nenek yang sudah renta sangat mahir mengiris tipis daun pandan yang wangi itu. Pisau yang beradu dengan talenan bergerak begitu cepat namun teratur membuat irisan-irisan daun pandan menjadi tipis dan indah. Indah tidaknya bentuk irisan pandan itu didapatkan melalui pengalaman. Entah mulai sejak kapan Nenek membuat canang sari.

 

Nenek adalah perempuan sudra yang mandiri. Dia terbiasa melakukan semua hal sendiri sejak remaja, berkeluarga, hingga sekarang saat sudah ditinggal suami. Lekukan dan kerut pada wajah dan sekujur kulit tubuhnya makin tegas. Setiap garis yang menyimpan cerita yang membuatnya terbiasa bekerja keras. Seperti pagi itu, ia membuat canang sari untuk persembahan hari ini.

Setiap hari Nenek membuat sekitar 50 buah canang sari. Belum lagi jika saat hari suci tiap beberapa hari sekali, piodalan di pura, Nenek membuat canang sari lebih banyak dari biasanya dan harus menyiapkan sesaji lainnya. Nenek tak pernah bosan membuat canang sari setiap hari.

Sekarang usia Nenek sekitar 70 tahun, memiliki enam orang anak dan sepuluh orang cucu. Suami, saudara, dan salah satu anaknya sudah meninggal. Nenek berjalan tidak membungkuk seperti nenek seumurnya. Wajah keriput nenek masih begitu kuat menjalani hari-harinya dan selalu tersenyum ramah menyapa siapa saja yang berkunjung ke rumah.

Aku kagum pada perempuan-perempuan kuat seperti Nenek. Dia perempuan kuno yang tidak bisa membaca dan menulis. Hanya menguasai beberapa kata bahasa Indonesia. Dan kadang lawan bicaranya tak paham apa yang dia katakan dalam bahasa Indonesia. Seperti saat ia berkomunikasi dengan pemulung, orang jawa yang mencari sampah plastik di rumah.

Nenek sering menggunakan kamben lusuh dan baju yang sudah berwarna pudar. Bukan anak-anaknya tidak pernah memberikan pakaian baru, namun Nenek seakan memiliki pakaian favorit. Ia tidak akan menggantinya dengan yang baru jika pakaian lamanya masih layak digunakan.

 

Sebuah kelelahan yang dalam mungkin mengganggu seluruh otaknya. Sebuah kejenuhan-kejenuhan yang mengepung. Rutinitas yang membosankan. Namun ia tetap melakukan rutinitas tanpa sedikitpun keluhan. Dia tak pernah menyalahkan dirinya sendiri atau menyesalkan keadaan yang dihadapinya.

Ia memperjuangkan cinta. Janur dipotong, dijahit satu dengan yang lain sebelum dihias dengan bunga. Tumpukan canang sari adalah isyarat kasih sayang dan syukur yang tetap mengalir sepanjang hayat. Nenek memang tak pernah mengenyam pendidikan formal. Nenek belajar dari tiap detik yang dilewatinya. Dia sangat bersemangat bila bercerita tentang pengalaman hidupnya menggunakan bahasa Bali. Aku dibuat terpukau.

Ibu dan Bapak sudah melarang Nenek membuat canang sari. Kata Ibu, canang sari bisa dibeli di pasar. Nenek agar jangan terlalu menguras tenaga. Namun Nenek selalu mengaku masih kuat, apalagi hanya untuk membuat canang sari. Ibu dan ayah memang sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing, sehingga untuk urusan menghaturkan canang sari dan menghaturkan persembahan lainnya, Nenek yang melakukan.

“Ibu masih sanggup!”

Nenek selalu mengatakan itu. Dengan tegas sambil menatap Ibu tajam. Ibu menanggapinya dengan manarik napas, berusaha tersenyum.

“Bu jangan terlalu memaksakan. Sudah seharusnya tidak banyak bekerja.”

Nenek hanya diam. Karena berkali-kali, ia sudah malas menanggapi. Aku mengira ini adalah satu-satunya cara membunuh kesepiannya. Nenek sepertinya terus dikepung rasa sunyi.

Ibu sebenarnya tidak tega membiarkan Nenek duduk berlama-lama membuat canang sari, hingga kadang-kadang sampai kelelahan. Namun bagaimana lagi, Ibu dan Bapak seharian sibuk bekerja. Tidak memiliki waktu untuk sekadar membuat canang sari, bahkan waktu untuk menghaturkan canang sari pun kadang tidak memungkinkan.

“Lalu siapa yang akan mengerjakan ini?” kata Nenek.

Ibu dan Bapak sebenarnya ingin membeli saja segala kebutuhan banten sehari-hari, Nenek tinggal menghaturkan saja. Rencana ini tidak disetujui oleh Nenek. Ia bersikeras masih sanggup melakukan. Ibu menarik nafasnya dalam-dalam.

Nenek selalu mengaku masih kuat. Nenek selalu bercerita jika dulu ia sering berjalan kaki membeli kelapa hingga ke desa-desa di kecamatan seberang. Kelapa itu lalu diolah menjadi minyak kelapa yang kemudian dijualnya. Hingga sekarang Nenek masih sesekali membuat minyak kelapa jika mendapat kelapa di tegalan. Aktivitas berjalan kaki ini kata Nenek selalu dilakukan. Tiap hari menyusuri desa demi desa, bahkan kadang menyeberang sungai. Beda dulu, beda sekarang. Aku yakin Nenek sekarang tidak sekuat dulu seiring bertambah usianya. Namun aku tahu, Nenek juga sering merasa kelelahan. Nenek kadang sakit tapi tidak pernah mengatakan pada kami. Nenek tidak akan mau diajak ke dokter jika tidak dipaksa. Penderitaan yang telah membutnya menguasai hidupnya.

 

Mentari begitu hangat menyentuh halaman rumah kami. Bunga-bunga bermekaran dari tempat-tempat yang paling tinggi hendak menyaingi kemolekan sang surya. Jarum pendek jam dinding tua di bale gede menunjuk angka delapan dan jarum panjangnya menunjuk angka sebelas, Nenek akan memulai aktivitasnya. Memetik bunga, mengiris pandan arum, dan merangkai janur. Bahan-bahan untuk membuat canang sari disiapkan. Aroma wangi bunga dan pandan arum selalu memenuhi rumah. Begitu khas menyentuh hidung.

Saat aku masih duduk di sekolah dasar, aku sempat bertanya mengapa Nenek selalu membuat canang sari. Setiap hari dalam jumlah banyak. Tak ada seorang pun yang menyuruhnya. Apakah ia tidak lelah?

“Ini persembahan dari kita. Harus kita lakukan sendiri.”

Begitulah jawaban Nenek. Dengan tegas hingga bibirku bungkam, otakku masih sulit mencerna maksud kalimat itu. Aku tidak menanyakannya lagi karena aku yakin jawaban berikutnya akan membuat kepalaku pening.

Aku selalu bertanya dalam hati. Apakah Tuhan akan marah pada keluarga kami jika mempersembahkan canang sari yang bukan buatan sendiri. Lalu, mengapa ada banyak pedagang canang sari di pasar seperti yang sering aku temui jika diajak ibu ke pasar pagi-pagi. Rangkaian pertanyaan-pertanyaan ini belum pernah berani aku tanyakan pada siapa pun hingga aku dewasa. Dan ketika aku dewasa, aku belum berhasil menemukan jawabannya.

Rambut Nenek yang panjang berubah kelabu. Penglihatannya pun sudah tidak sebagus dulu. Beberapa orang kadang terasa asing baginya. Sekarang nenek menggunakan kaca mata, setiap hari ia juga meneteskan tetes mata pada kedua mata tuanya. Dia melakukannya sendiri sambil rebahan.

Suatu hari kulihat perempuan itu duduk sendiri di bale gede memandang puluhan bunga kembang sepatu kebanggaanya yang sedang mekar. Mungkin ia sedang mengingat suaminya yang telah meninggal saat aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dulu ia dan suaminya sering menanam pohon bunga bersama.

Rumah kami begitu terlihat cerah. Aku pikir Nenek sudah menciptakan bianglala di rumah. Berbagai jenis bunga mekar disentuh sinar mentari, dijamah serangga dan kupu-kupu. Berjuta-juta serangga berbagai jenis menerbangkan bunyi-bunyian dari getaran tubuh mereka. Gerombolan serangga berpesta mencari pasangan. Suaranya kadang berada di bawah ambang batas sehingga benar-benar terdengar bila hening. Sesungguhnya setiap serangga memiliki intonasi dan nada yang berbeda. Jika dicamkan baru bisa dibedakan suara itu berasal dari lokasi dan jenis serangga yang berbeda.

Seperti pagi ini, saat sedemikian hening, basah, dan dingin. Tak ada lengking serangga, tak ada suara ramai mengundang lawan jenis. Bunga-bunga dipetik angin berjatuhan satu demi satu. Tak juga mereka bermain petak umpet di kerimbunan pepohonan tegalan keluarga di belakang rumah.

Nenek masih membuat canang sari tapi tidak di bale gede seperti biasanya. Ia membuat canang sari bersama teman-temannya di panti jompo. Sudah hampir tiga bulan Nenek di sana, bergabung bersama keluarga barunya.

Sekarang Nenek hanya bisa terlentang di kasur. Satu minggu yang lalu Nenek terpeleset dan jatuh. Tulang pinggangnya patah. Nenek merindukan canang sari. Dengan tatapan kosong memandang tiap bunga yang disusun di atas janur yang dirangkai. Namun di dalam tatapan kosong Nenek selalu ada cinta pada keluarganya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *