Pages Navigation Menu

CTS: Komedi Penuh Pesan Moral

Posted by on Dec 29, 2016 in film | 0 comments

Akhir tahun adalah momen yang tepat untuk flashback/merenungi hidup. Jika begitu, tidak ada salahnya mencoba merenungi hidup dengan cara komedi. Ini yang disuguhkan Cek Toko Sebelah (selanjutnya ditulis CTS) film kedua karya Ernest Prakasa. Sejak Ernest muncul di SUCI, saya memang sudah tertarik dengan konten komedi yang dia sajikan di panggung. Selanjutnya keresahan-keresahannya ini disajikan dalam medium buku dan film. Ia punya satu pesona yang memang datang dari diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Lalu ditebalkan lagi sehingga keresahan-keresahan tersebut bisa dinikmati oleh lebih banyak orang. Bahkan ada banyak keresahan yang memang sangat pribadi (bagi Ernest) dan bahkan tanpa kita sadari, kita juga alami, diantarkan dengan sangat baik kepada kita, sebagai audiens. Ya satu kata, Ernest adalah komika yang jenius. CTS bahkan jauh lebih bagus daripada Ngenest. Tampaknya ekspektasi para penonton tercapai. Bahkan ada yang mengatakan bahwa CTS akan bersaing...

Read More

Hangout: Menertawakan Pembunuhan

Posted by on Dec 29, 2016 in film | 0 comments

Jika kamu punya waktu luang di akhir tahun ini, coba tonton Hangout sebuah film terbaru karya Raditya Dika. Apalagi untuk yang ingin sejenak melupakan kepenatan hidup dan kekroditan pekerjaan. Hangout tepat sebagai markas untuk berkumpul dan tertawa lepas, meski menertawakan pembunuhan sekalipun. Seperti biasa, Raditya Dika selalu menemukan bagian yg lucu dari kejadian sehari-hari. Saya mengira lelucon-lelucon yang muncul di film Hanghout ini adalah kegelisahan dari masing-masing tokoh dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dalam film Hangout, memang masing-masing tokoh memerankan diri mereka sendiri. Mungkin ada yang bilang, ih kok kehidupan sehari-hari dibawa ke film sih? Ya di sanalah letak kelucuan film ini. Anekdot-anekdot tersebut tampaknya memang sengaja diramu dalam film. Dan hasilnya memang lucu. Kehebatan Radit dalam penulisan skenario semakin terlihat saat lelucon-lelucon personal antar tokoh, yang bahkan (sebenarnya) mereka saja yg mengerti, berhasil membuat seisi teater tertawa. Perihal lucu...

Read More

Lanny dan Rok Bunga

Posted by on Dec 4, 2016 in essai | 0 comments

Apa yang terbayang di benak kamu jika mendengar nama Lanny? Gadis manis? Perempuan seksi? Saat SMP saya punya teman bernama Lanny, seorang gadis. Saya yakin, dia mengenal saya meski kami beda kelas. Ia punya teman satu gank, cantik menyerupai bidadari. Lebih cantik dari Lanny tentu saja. Sayang sekali kali ini saya tidak akan menceritakan Lanny atau temannya yang secantik bidadari itu. Ini kisah Lanny yang lain. Baiklah, entah siapa yang pertama menjeniskan nama untuk gadis atau pria. Seperti nama Lanny, kamu juga saya, hampir pasti menghubungkan dengan nama seorang gadis. Selalu terkesan logis. Meski tak selalu benar. Seperti kisah tentang Lanny berikut ini. Membaca cerpen “Rok untuk Lanny” karya Maria Pankratia, sudut pandang saya, mungkin juga kamu setelah membaca postingan ini, tentang pemilihan nama agak berbeda. Cerpen tersebut dimuat di harian Bali Post, Minggu 4 Desember 2016. Ya, ketika...

Read More