Pages Navigation Menu

Puisi Sepanjang Agustus

Pemikat Jantung

Ceritakan padaku
tentang nyalang yang begitu tajam
di bawah kabut pagi itu

Di puncak rindu rumahmu
tempat menampung kisah
serta segala perjumpaan

Lima menit, lima tahun,
menjelma lima puluh tahun
kerap tak cukup, sebab

Pohon-pohon terus bertumbuh
bisik gugur daun kering
sedang kau masih menari

Ikut irama musim dari dalam cangkang
ada terlupa sebuah hari
dengan pagi terlipat

Kuajak kau ke balik senja
menyulam peluk yang terlupa
moga-moga tak jatuh air mata

(2017)

***

Kisah Suatu Pagi

baju beraroma marun.
bunga pagi dikoyak musang.
cangkir-cangkir berjejeran
bersisa kelakar.
ya, begitulah.

enigma tersimpan rapi
di rumah nomor enam belas.

(2017)

***

Pasar-pasar

Sudah hilang, sudah lenyap!
kata ibu pada sambungan telepon

Pagi basah, pagi basah
pasar-pasar telah bernafas jauh tadi
saat aku hitung dingin

Tak pernah usai gigil
meski pagi telah kembali

(2017)

***

Putih Sunyi

Untuk matamu
tiga pagi berturut-turut
menakar pergi sunyi kemudian

Apakah aku seperti rahasia?
lekas risau baru hujan
pada kaca jendela
kala terang bulan
yang buat benar-benar betah

(2017)

***

Meja Makan

Pukul 05.15. Dapur jadi beraroma sarapan. Meski ini minggu pagi. Ibu telah menakarnya. Sehabis itu. Di atas meja siap potongan timun dan daun kol. Lalu tatapan menuju pada mereka.

Sudah waktunya, 07.30. Ibu memang selalu tahu. Semak mawar menginginkan alasan.

Seusai makan. Segera menyesap teh hangat dalam segera. Cangkir-cangkir penuh maaf.

(2017)

***

Pulanglah

separuh angin
dan seorang penyair
menulis sajak bunyi lonceng keras-keras
padahal masih tiada
sekembang mawar, sayembara, dan kuasa sebagai imbalan

melalui tikam lembut bebunyian
sunyi kembali sunyi
serupa janji yang ditepati
dan waktu tetap menyimpan lupa
pada rumah

(2017)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *