Pages Navigation Menu

Upaya Menyelamatkan Bahasa Bali

Menarik sekali membaca esai “Bahasa Bali Jadi Bahasa Internasional?” dari Ketut Sugiartha di Pos Bali edisi 25 Februari 2018. Esai tersebut mengurai kemungkinan Bahasa Bali sebagai bahasa internasional. Selain karena Bali menjadi destinasi wisata yang sudah termasyhur seantero dunia, melihat perkembangan bahasa Bali yang cukup mengembirakan. Sebab, penutur bahasa Bali yang relatif masih banyak, generasi muda juga mulai menekuni sastra Bali tradisi maupun modern sehingga mendukung perkembangan bahasa Bali ke arah yang positif. Keberadaan Yayasan Kebudayaan Rancage juga menjadi salah satu pemacu pesatnya perkembangan sastra Bali modern. Intinya, bahasa Bali masih menjadi tuan rumah di Bali sendiri.
Fakta-fakta tersebut hendaknya tidaklah membuat kita, masyarakat Bali, terlena. Ke depan, masih banyak pekerjaan rumah yang dimiliki untuk menuju kelestarian bahasa ibu di tanah Bali ini. Masyarakat Bali, baik tua maupun muda, haruslah menjadi ujung tombak dalam mendukung eksistensi bahasa Bali.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mencatat, setidaknya ada 11 bahasa daerah yang telah punah. Bahasa daerah yang punah tersebut berasal dari Maluku, yaitu bahasa daerah Kajeli/Kayeli, Moksela, Piru, Palumata, Ternateno, Hoti, Hukumina, Serua, Nila, serta bahasa Papua, yaitu Tandia dan Mawes. Untunglah menurut data Badan Pusat Statistik (2010), di antara ratusan bahasa daerah yang ada di Indonesia, bahasa Bali termasuk tiga belas bahasa yang memiliki penutur di atas satu juta. Memang masih tingginya pemakaian bahasa Bali dalam kehidupan sehari-hari tentunya menjadi salah satu langkah pelestarian bahasa Bali itu sendiri. Namun, kekawatiran akan punahnya bahasa Bali tidak bisa dianggap remeh.
Beberapa alasan sebuah bahasa daerah punah adalah penutur muda terus berkurang karena sikap masyarakat terhadap bahasa daerah itu masih belum positif. Ada sebagian anak muda yang merasa lebih bergengsi menggunakan bahasa asing atau bahasa Indonesia dan mengabaikan bahasa daerahnya. Hal ini juga ditambah oleh sikap lingkungan sekitar, khususnya orang tua yang malah lebih mengajarkan bahasa asing atau bahasa Indonesia bukan bahasa daerah. Padahal bahasa ibu dalam keluarga tersebut adalah bahasa daerah.
Jangan sampai kasus kepunahan bahasa di Ambon terjadi di Bali. Bahasa di Ambon punah sudah sejak masuknya penjajah Portugis. Seiring perkembangan zaman, sebagian besar warga Ambon terutama yang berusia 40 tahun ke bawah sudah mulai meninggalkan bahasa daerah. Generasi muda di sana hanya mampu berbahasa daerah pasif. Maka pentinglah mengajak generasi muda Bali sedini mungkin untuk mengenal dan menggunakan bahasa Bali secara aktif.
Bahasa Bali harus dibuat menarik bagi masyarakat sehingga mau digunakan. Selama ini bahasa Bali tidak terlihat keren, apalagi bagi generasi millenial. Keberadaan bahasa Bali seakan hanya pada kekawin, lontar, atau seni tradisi lain. Tentu sangat berjarak bagi generasi tersebut. Bahasa Bali terkesan menjadi bahasa orang-orang tua. Dalam bayangan sebagian masyarakat, bahasa Bali hanya menjadi bahasa yang digunakan masyarakat di desa-desa.
Namun, keberadaan bahasa Bali di media-media arus utama dalam bentuk karya sastra atau produk seni populer lainnya membuat bahasa Bali makin memutus jarak dengan generasi millenial. Kini bahasa Bali sudah terlihat eksistensinya sebagai konten dalam bentuk teks maupun video pada media sosial. Pembuat kontennya pun kini didominasi orang-orang muda. Ini tentu sangat penting untuk membuat bahasa Bali menarik bagi generasinya. Beruntunglah, Bali hari ini memiliki tokoh-tokoh yang dengan semangat tinggi tanpa pamrih membuat bahasa Bali menjadi keren dan menarik bagi masyarakat, khususnya generasi millenial.
Tentu saja upaya ini sangat berat jika tidak dilakukan secara kolektif. Perlu adanya langkah kongkret agar bahasa daerah tetap digunakan oleh generasi muda. Di Bali sudah ada beberapa upaya di antaranya, seperti mewajibkan berbahasa Bali saat hari Rabu di instansi-instansi pemerintahan dan sekolah-sekolah. Upaya lain yaitu memberikan apresiasi terhadap tokoh-tokoh (misalnya sastrawan dan dalang) yang telah mendukung pelestarian bahasa, sastra, dan aksara Bali. Ada pula upaya dari pemerintah, yaitu wacana usulan memasukkan bahasa Bali masuk sebagai Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) di kampus.
Upaya-upaya tersebut tentu harus disambut baik. Upaya penyelamatan bahasa memang usaha yang hasilnya tidak “nyata” secara materi-ekonomis. Namun perjuangan ini adalah langkah menjaga kekayaan batin bangsa. Kepunahan bahasa sama dengan kehilangan warisan budaya bangsa yang tak ternilai harganya. Memang perlu waktu yang relatif lama untuk melihat hasilnya. Namun, perlu diapresiasi dan didukung oleh semua pihak demi terwujudnya bahasa Bali yang lestari.

dimuat harian Pos Bali, 4 Maret 2018

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *