Pages Navigation Menu

Sexting, Cegah Sebelum Terlambat

Sering terjadi akibat kelalaian membuat diri celaka. Begitu pula saat memanfaatkan teknologi, salah-salah bisa merugikan diri sendiri. Hendaknyalah masyarakat lebih bijak dalam menggunakan teknologi. Memang perlu langkah segera untuk meminimalkan bahaya yang mungkin muncul dari kesalahan tersebut.
Beredarnya video, gambar, atau teks berkonten pornografi ke masyarakat luas tentu melahirkan masalah, bisa-bisa terjerat hukum pidana.Fenomena demikian kerap terjadi dan selalu berujung penyesalan. Hal-hal demikian sangat bisa dihindari asal cerdas dalam pemanfaatan teknologi. Namun, faktanya, kasus-kasus tersebut masih saja terjadi, baik itu melibatkan orang terkenal atau masyarakat biasa, mulai dari anak remaja hingga orang dewasa.
Sebuah kebodohan jika seseorang sampai membuat materi pornografi, lalu diedarkan di antara teman-teman hingga menjadi viral di dunia maya. Ada pula karena kelalaian, konten yang layaknya hanya dikonsumsi secara pribadi menjadi konsumsi masyarakat luas. Sehingga mengakibatkan seseorang tersangkut kasus hukum. Tentu saja semua ini bisa dihindari.
Jamak terjadi, foto, video, juga teks dalam obrolan melalui aplikasi obrolan atau media sosial yang seharusnya hanya untuk diri sendiri dan bersifat pribadi menjadi viral di dunia maya. Akibat kejadian tersebut, seseorang bisa menerima hujatan dan ejekan dari masyarakat. Padahal belum tentu kesalahan tunggal ada pada orang tersebut. Semua tentu bisa dihindari.
Di zaman yang canggih ini, media sosial atau aplikasi obrolan begitu jahat dan kerap dimanfaatkan oleh orang-orang jahat untuk meraih keuntungan pribadi dan kelompok. Dulu, masyarakat dibuat hati-hati dalam menggunakan internet sebab memiliki berbagai konten yang “membahayakan”. Sekarang, beberapa masyarakat malah membuat materi yang “berbahaya”. Parahnya, materi tersebut diedarkan di kalangan terbatas hingga lepas kendali dan beredar secara bebas. Hal ini tentu di luar kendali individu tersebut. Fenomena ini dikenal dengan istilah sexting.
Sexting dapat dipahami sebagai konten perihal seks melalui internet. Sexting bukan hanya konten menyangkut diri sendiri, namun juga orang lain. Penyebaran lewat aplikasi obrolan semacam What’s App atau Line serta media sosial seperti Facebook dan Instagram juga termasuk sexting. Sadarilah negara ini memiliki undang-undang ITE yang mengontrol perilaku seseorang di dunia maya.
Penyalahgunaan internet untuk sexting mengakibatkan seseorang terjerumus dalam aib yang mereka tanggung seumur hidup. Lebih luas lagi, orang-orang di sekitar (orang tua, sahabat) juga ikut menanggung akibatnya. Pertanyaan besarnya, mengapa seseorang sampai melakukan sexting? Dari beberapa kasus sexting yang terjadi, beberapa alasannya adalah sebagai wujud rasa cinta kepada kekasih, solidaritas antar teman, sekadar mendokumentasikan aktivitas atau diri sendiri, serta untuk tujuan-tujuan kejahatan.
Kadang seseorang tidak menyadari bahaya yang setiap saat mungkin hadir akibat sexting. Tidak banyak yang menyadari bahwa, konten-konten yang telah diunggah tersebut akan tersimpan selamanya di dunia maya. Konten-konten tersebut bisa dilihat semua orang di dunia dan disimpan oleh siapa pun tanpa bisa dicegah. Bahayanya kemudian, konten-konten tersebut bisa tersebar kapan saja di waktu-waktu mendatang.
Sexting ini dapat merusak masa depan seseorang atau orang-orang yang terlibat dalam konten tersebut. Ancaman pidana juga menunggu melalui UU Nomor 4/2008 tentang pornografi. Sayangnya, masyarakat belum banyak menyadari hal ini. Hingga masih banyak masyarakat yang bahkan ikut menyebarkan konten-konten sexting.
Terkait fenomena sexting, pencegahan masih bisa dilakukan. Solusinya, komunikasi antara orang tua dengan anak. Dengan catatan, para orang tua lebih dulu diedukasi terkait sexting, internet, dan smartphone yang saling berkaitan. Begitu pula peran guru di sekolah, harus memberikan contoh yang baik, jangan malah menjerumuskan bahkan terlibat dalam konten sexting. Bukankah guru adalah orang tua siswa di sekolah.
Orang tua harus mampu melakukan pendekatan terhadap anak. Agar, anak tidak takut terhadap orang tua. Anak akan mau bercerita kepada orang tua tentang apa pun, meski terkait hal-hal pribadi. Jika anak sudah merasa nyaman, orang tua tentu lebih mudah untuk mengarahkan. Mungkin bisa digunakan cara ngobrol santai dan tidak menggurui.
Cerdas dalam menggunakan internet juga penting. Orang tua lagi-lagi harus menjadi contoh yang baik. Intinya orang tua sebisa mungkin mendampingi anak dalam akses ke dunia maya, sehingga hal-hal negatif dapat diminimalkan. Kasus-kasus yang kerap muncul terkait penyalahgunaan internet dan media sosial adalah pola asuh orang tua yang cenderung membebaskan anak.
Guru, sebagai orang tua di sekolah hendaknya juga dapat memberikan solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi anak. Jangan malah membuat anak merasa sendiri dan terlantar. Bimbing mereka, perikan pendampingan agar mereka tahu apa hal yang pantas dan tidak pantas dilakukan. Edukasi anak terkait sexting, berikan contoh. Arahkan meraka, agar anak selalu pada rel yang benar.
Di tengah kemajuan teknologi, orang tua perlu terus belajar dan mengetahui tren yang sedang berkembang. Apalagi yang melibatkan anak-anak.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *