Pages Navigation Menu

Dualisme dalam Simbol ‘Sekala Niskala’

Produser : Kamila Andini, Gita Fara
Sutradara : Kamila Andini
Produksi : fourcoours film, Tree Water Productions
Rilis : 8 Maret 2018
Gendre : Drama
Rating : Remaja

Sebagai guru, saya sehari-hari menghadapi sejumlah siswa dengan cara pikir dan latar belakang berbeda. Tentu ini menjadi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah menjelaskan gagasan yang rumit bahkan sangat rumit dalam cara atau bahasa yang sederhana. Bahkan amat sederhana. Hal ini tentu tidak gampang, namun juga tidak mustahil dilakukan. Dengan persoalan yang sama, tapi pada medium yang berbeda tampaknya berhasil dilakukan oleh Kamila Andini pada film panjang keduanya, Sekala Niskala (The Seen and Unseen).
Perempuan muda ini tampaknya banyak dibicarakan sebab telah melahirkan sebuah film yang tidak biasa. Sebab gagasan yang disampaikan dalam film cukup rumit namun disajikan dengan sederhana, sehingga bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Bahkan mendapat apresiasi yang tidak seikit dari masyarakat internasional.
Film Sekala Niskala berlatar budaya Bali, mengangkat kekayaan lokal (hampir seluruh dialognya pun menggunakan bahasa Bali), dan mengeksplorasi tatanan semesta yang penuh dengan imaji. Mengambil sudut pandang dua tokoh anak-anak, Tantri (Ni Kadek Thaly Titi Kasih) dan Tantra (Ida Bagus Putu Radithya Mahijasena), yang merupakan kembar buncing (kembar laki-laki dan perempuan). Anak-anak dianggap lebih peka terhadap hal-hal magis.
Budaya Bali memiliki persepsi yang cukup radikal terkait kembar buncing. Kembar buncing dapat membawa kemakmuran bila berstatus keturunan ningrat. Sebaliknya, akan membawa sial bila berasal dari kalangan rakyat biasa. Hal ini membuat keluarga pemilik kembar buncing harus menerima sanksi adat berupa pengasingan di kuburan. Sanksi adat bagi kembar buncing telah dihapuskan oleh DPRD Bali dalam Paswara Nomor 10/DPRD tanggal 12 Juli 1951, tapi di beberapa desa masih memberlakukan sanksi adat tersebut. Mitos inilah yang menjadi dasar konflik pada Sekala Niskala. Penyakit keras yang menyerang Tantra adalah perwujudan malapetaka yang menimpa keluarganya.
Film Sekala Niskala mirip pementasan teater, menggunakan simbol gerak, imaji, serta gaya komunikasi metaforis yang tampak berbelit-belit. Tetapi sebetulnya esensi dialog tokoh-tokohnya (terutama Tantri dan Tantra) mudah dipahami. Ragam visual yang terekam dalam film bahkan menjadi nilai tambah. Mulai dari telur, monyet, ayam jago, dan gerombolan anak-anak bersinglet putih muncul dalam frame yang diracik dengan memukau. Keasingan yang terlihat dalam film sebetulnya begitu intim dengan keseharian masyarakat.
Narasi kehidupan dan kematian yang agak rumit dalam kultural masyarakat Bali berjalan lancar dalam film Sekala Niskala. Film ini menjadikan visual sebagai media bercerita yang lebih dominan. Akting para pemain juga patut diacungi jempol. Pantas film ini memenangi penghargaan bergengsi skala internasional seperti Best Yout Feature Film di Asia Fasific Screen Award 2017 dan The Golden Hanoman Award di NETPAC AFF 2017.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *