Pages Navigation Menu

Nyepi di Dunia Nyata dan Maya

Tidak perlu menunggu Hari Raya Nyepi, yang datangnya setahun sekali, untuk mengendalikan diri menggunakan internet. Hari-hari biasa pun bisa. Sebab semua kembali pada diri sendiri.
Nyepi tahun ini, PHDI dan direspons pemerintah (menkominfo) agar seluruh penyelenggara telekomunikasi untuk mematikan layanan akses internet di Bali melalui Surat Edaran Nomor 378 Tahun 2018 Tentang Himbauan Tidak Bersiaran (Off Air) Pada Hari Raya Nyepi Tahun 2018 Di Wilayah Provinsi Bali. Pemutusan layanan akses internet ini tentunya melahirkan respons beragam dari masyarakat, ada yang pro juga kontra. Tidak elok masyarakat Bali, apalagi yang merayakan Nyepi malah ikut sibuk berargumen sebaiknya, seharusnya, dan sebagainya terkait hal tersebut. Saya yakin, tanpa adanya pemutusan layanan internet, masyarakat akan menghormati Hari Raya Nyepi ini. Semua kembali pada diri sendiri.
Masyarakat yang tidak melaksanakan Nyepi pasti akan menghormati. Sebaliknya, jika masyarakat melaksanakan Nyepi, pasti akan total menjalaninya. Boleh dikatakan pola pikir pemerintah terkait pemutusan layanan internet saat Hari Raya Nyepi adalah pragmatis. Sebaiknya, pemerintah cukup mengeluarkan himbauan agar masyarakat benar-benar menjalani Catur Brata Penyepian, serta umat yang tidak melaksanakan untuk menghormatinya. Agar kerukunan antar umat tetap terjaga.
Sebenarnya tujuannya baik, agar pelaksanaan Catur Brata Penyepian lebih khusuk. Akhirnya, pemutusan layanan akses internet pada Nyepi tahun ini benar dilakukan. Layanan internet memang terputus selama kurang dari 12 jam saat Nyepi. Mulai Sabtu (17/3) sore hingga Minggu (18/3) subuh.
Poin yang lebih penting untuk masyarakat lakukan adalah bertanya pada diri sendiri, makna Nyepi. Renungkan fungsi internet bagi kehidupan. Sebagai masyarakat literer, haruslah kita kritis terhadap segala permasalahan yang dihadapi. Jangan buru-buru menanggapi isu provokatif seperti ini dengan hal-hal yang provokatif juga. Merayakan Hari Raya Nyepi bertujuan memperluas jaringan persaudaraan hakiki antara manusia dengan jalan menumbuhkan kepribadian untuh dalam diri manusia, solidaritas tulus antar sesama, rasa tanggung jawab tinggi kepada masyarakat serta toleransi hangat kepada pihak lain (Pendit, 2001:42).

Merayakan Nyepi
Nyepi berarti sepi atau hening. Sesuai namanya, saat itu keadaannya memang satu hari dalam keheningan. Selama 24 jam seluruh bisnis mati suri, pagi hening, nyanyian burung pagi lebih jelas terdengar. Bisa dipastikan, jalan raya kosong, segala aktivitas dihentikan, termasuk airport internasional yang ada berhasil ‘dilumpuhkan’. Situasi malam hari akan diselimuti gelap gulita karena diberlakukannya aturan luhur untuk tidak menyalakan lampu. Ini dapat dimaknai agar umat memasuki tahun baru dengan awal yang bersih dan suci, atau sederhananya bila awalnya sudah bersih diharapkan hari-hari seterusnya akan jadi bersih dan suci pula. Nyepi adalah tahun baru menurut penanggalan tahun Caka.
Dalam menyambut Hari Raya Nyepi, umat Hindu melaksanakan serangkai upacara yaitu mekiis/melis/melasti, tawur kesanga/tawur agung/mecaru, Nyepi, dan ngembak geni. Sebagai puncaknya, umat Hindu melakukan tapa brata, berpuasa, bersemadi, mengosongkan pikiran menyatukan jiwa, dalam situasi nang – ning – nung – neng – nong, yaitu: tenang, hening, merenung, meneng (diam), dan kosong!
Tujuan tertinggi umat Hindu dalam kehidupan sehari-hari adalah mencapai disiplin hidup sebagaimana dicerminkan dalam Catur Brata Penyepian, yaitu: amati geni, amati karya, amati lelunganan, dan amati lelangunan. Amati geni hakikatnya mematikan api hawa nafsu, api amarah, dan api loba. Amati karya dalam arti spiritual berarti bekerja keras pada waktunya dan beristirahat pada saatnya. Amati lelunganan bisa dimaknai sebagai langkah hidup hemat dan rajin menabung untuk biaya hidup sehari-hari. Amati lelanguan dapat dimaknai sebagai menghentikan sukaria berlebihan, apalagi sudah menjurus maksiat.
Makna tersirat dalam rangkaian upacara Hari Raya Nyepi adalah untuk membersihan diri dan lingkungan dari segala kotoran agar benar-benar bersih lahir batin dalam menghadapi tahun baru, hari esok setelah Nyepi. Udara menjadi bersih akibat tidak adanya aktivitas di jalan raya juga di bandara yang tutup saat Nyepi.
Sudahkah masyarakat memaknai esensi nyepi ini? Semoga masyarakat tidak hanya “terjebak” pada ritual dan melupakan esensi atau nihil “prakti nyata” tiap upacara/upakara yang dilaksanakan. Apalagi Hari Raya Nyepi ditetapkan sebagai hari libur nasional pada 1984. Sehingga umat Hindu yang merayakan Nyepi di nusantara bisa melaksanakan Catur Brata (empat pantangan) Penyepian dengan lebih fokus karena umat lain pun menunjukkan toleransi yang tinggi.
Saat Nyepi manusia dihadapkan pada situasi kesendirian. Kesendirian tersebut diharapkan memberi pelajaran berharga tentang hidup sebatang kara, yatim piatu, papa, dan nestapa tanpa pekerjaan. Selain itu, alam bisa beristirahat walaupun hanya sehari. Namun sehari ini sangat berarti. Bayangkan, sekian energi bisa dihemat dalam 24 jam akibat pemakaian listrik yang sangat minim.
Sekian banyak polusi bisa ditekan akibat ribuan kendaraan bermotor tidak tumpah ke jalan. Sekian banyak asap dan limbah pabrik tidak membumbung akibat semua tempat usaha diliburkan. Tidak ada pesta pora karena seluruh tempat hiburan ditidurkan. Sekian banyak energi positif bertebaran di atmosfir sekitar pulau Bali karena sekian banyak orang bermeditasi, berpuasa, dan berintrospeksi diri sepanjang hari. Dunia membutuhkan saat hening yang hanya bisa didapat saat Nyepi.

Merayakan Sepi
Media informasi, termasuk di dalamnya internet, membuat berbagai macam informasi tersedia dan dapat dimanfaatkan dengan mudah oleh setiap individu. Komunikasi antar individu lebih mudah. Seharusnya segala kemudahan tersebut dimanfaatkan untuk hal-hal positif bagi kehidupan. Harusnya, manusia bisa hidup lebih rileks, punya wawasan luas, serta mampu berpikir logis dan rasional.
Apa yang ditakutkan dari internet? Tampaknya keberadaan internet menyebabkan meningkatkan individualisme setiap individu. Sebab menyebabkan yang jauh semakin dekat, yang dekat semakin menjauh. Interaksi sosial semakin terbatas, semua komunikasi dan interaksi dilakukan dari jauh tanpa tatap muka. Kehidupan semakin riuh oleh kehidupan yang muncul di dunia nyata maupun dunia maya. Antar individu seakan tidak ada privasi sedikitpun, sebab semua hal yang dilakukan diketahui oleh dunia.
Siapa yang takut dengan internet? Siapa saja yang malas membaca dan rajin berkomentar. Saya kira inilah pangkal masalahnya. Tiap individu bahkan semakin ketergantungan terhadap internet. Internet dapat membunuh kesepian, membunuh waktu, dan pada akhirnya akan membunuh diri sendiri.
Nyepi tanpa layanan akses internet menjadi isu yang menarik dibicarakan selama beberapa hari belakangan. Bisakah individu zaman sekarang hidup tanpa internet? Mengukur kesanggupan manusia hidup tanpa internet tentu sangat relatif. Namun semuanya bisa dikendalikan.
Jika Anda adalah individu yang menggunakan sebagian besar waktu tiap harinya menatap layar gawai untuk mengakses internet, tentu sehari tanpa mengakses internet akan menyiksa. Anda tentu tidak bisa berkomentar, membagikan jempol atau tanda hati, mengunggah foto, di media sosial, serta libur bermain gim daring.
Jika Anda adalah individu yang hanya menggunakan internet dalam menunjang pekerjaan, tentu sehari tanpa akses internet bukan masalah. Anda pasti telah mempersiapkan dengan matang agar pekerjaan dan klien tidak terganggu. Selanjutnya, hari off tersebut bisa digunakan untuk beristirahat, merayakan sepi. Sesekali menyepi untuk meningkatkan kreativitas tentu opsi yang baik. Nikmati saja, 24 jam (bahkan kurang) tanpa Youtube dan media sosial.
Hal terpenting dari semua ini adalah pengendalian diri. Pemutusan akses internet tentu salah satu upaya agar masyarakat lebih memahami esensi Nyepi. Sayangnya paradigma ini terlalu pragmatis. Dengan pemutusan akses internet tidak serta merta meningkatkan kekhusukan masyarakat dalam menjalani Nyepi. Bahkan mungkin saja akan menimbulkan permasalahan yang lain. Kembali lagi, dan sudah berulang kali ditulis di esai ini, bahwa diri sendirilah kuncinya.

Kebijakan Masing-masing Wilayah
Untuk menciptakan Hari Raya Nyepi yang khusuk tentu harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar. Sebab, diri sendiri yang menjalani di lingkungan masing-masing tergantung situasi dan kondisi. Sebagai contoh, sejak saya kecil teman-teman saya memiliki kebiasaan bermain di luar rumah, ngobrol di pinggir jalan saat Nyepi. Itu mereka lakukan sepanjang usia mereka tentu dengan restu orang tua mereka. Saya sempat tidak mau diajak bermain karena tidak pernah mau ikut keluar rumah saat Nyepi. Oleh bapak, saya dilarang keluar rumah saat Nyepi.
Sebenarnya, di banjar tempat saya tinggal perayaan Nyepi sudah diupayakan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Himbauan pimpinan banjar dan diperkuat oleh pemahaman oleh masing-masing kepala keluarga ke anggota keluarga masing-masing diharapkan membuat pelaksanaan Nyepi tidak kehilangan maknanya. Tentu harus diperkuat aturan dan sanksi agar masyarakat merasa terikat.
Sebagai contoh keteraturan oleh diri sendiri bisa dilihat dari pelaksanaan Nyepi di banjar saya. Nyepi dimulai dan diakhiri dengan tanda bunyi kul-kul di bale banjar tepat pukul 06.00 WITA. Setelah kul-kul dibunyikan, otomatis semua warga mematikan lampu dan menghentikan semua aktivitas mereka. warga telah mengatur sedemikian rupa agar aktivitas memasak selesai sebelum pukul 06.00 WITA.
Selain itu, keberadaan pecalang di banjar dimaksimalkan. Patroli dilakukan oleh pecalang sepanjang hari untuk menjaga kelancaran pelaksanaan Nyepi. Jika ada warga yang keluar rumah dan didapati oleh pecalang, maka warga akan diperingati. Jika warga melakukan pelanggaran-pelanggaran, sudah disiapkan sanksinya. Biasanya warga yang bermain-main di pinggir jalan (seperti teman-teman yang saya ceritakan di salah satu bagian esai ini) tersebut selalu kucing-kucingan dengan para pecalang yang berpatroli.
Selain berpatroli, pecalang juga mendatangi rumah-rumah warga yang memiliki bayi/anak kecil, orang yang sudah tua, maupun orang sakit. Ini dimaksudkan untuk mengordinasikan penyalaan lampu kecil pada malam harinya. Rumah-rumah warga yang demikian diberikan kebijakan/ijin menyalakan lampu kecil di kamar saja. Selain rumah-rumah warga yang sudah berkoordinasi, tidak ada toleransi. Semua harus menjalankan Catur Brata Penyepian. Kebetulan pula warga banjar saya 100% merayakan Nyepi. Warga yang melanggar akan diberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku, biasanya berupa membayar denda dan lain sebagainya.
Seingat saya, semua itu sudah dilakukan warga banjar sejak saya kecil. Masih dilaksanakan hingga saya sudah bekerja sampai saat ini. Sesungguhnya saya takut tidur dalam gelap. Namun, saat Nyepi saya memberanikan diri. itu saya lakukan terus menerus hingga saya berani tidur dalam gelap. Orang tua saya selalu mengingatkan saya bahwa tidak boleh menyalakan lampu saat Nyepi dan jangan sekali-kali sengaja melanggarnya. Agar kamar tidur saya tetap terang, Bapak membuka semua gorden di rumah sehingga cahaya bintang dan barangkali juga bulan bisa menerangi kamar kami saat malam. “Gelap-gelapan sekali setahun kan tidak apa-apa”, kata Bapak.
Saya percaya, jika kesadaran telah tumbuh dalam diri masing-masing, semua akan teratur dengan sendirinya. Pembiasaan yang baik tentu memerlukan waktu relatif lama, tapi tidak mustahil dilakukan. Bahkan, pemerintah atau lembaga-lembaga negara tidak perlu mengaturnya.

esai ini juga dimuat tatkala.co

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>