Pages Navigation Menu

Lelaki Kantong Sperma: Potret Penyimpangan Seksualitas

Lelaki Kantong Sperma: Potret Penyimpangan Seksualitas

Judul : Lelaki Kantong Sperma
Penulis : Putu Juli Sastrawan
Ilustrasi : Ari Bakar Tinta
Penerbit : Mahima Institute Indonesia
Tebal : viii + 102 hlm
ISBN : 978-602-51560-0-7

Seksualitas selalu menarik untuk diperbincangkan. Selain menarik, seksualitas adalah realitas kehidupan. Maka keberadaan karya sastra dengan tema seksualitas tak bisa dihindari. Karya sastra Indonesia yang membahas seksualitas masih sedikit. Beberapa nama pengarang Indonesia yang membahas seksualitas pada karya-karyanya, yaitu Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Clara Ng, dan Eka Kurniawan. Penulis-penulis ini sangat berani mengisahkan seksualitas dalam karya mereka.
Juli Sastrawan pada kumpulan cerpen Lelaki Kantong Sperma juga begitu lugas membicarakan seksualitas yang masih tabu dibicarakan orang. Juli begitu lihai memotret beragam perilaku seksualitas di tengah paranoid moral masyarakat kita. Tokoh-tokoh dalam sembilan cerpen dalam kumpulan ini adalah orang-orang yang “sakit”. Mereka dianggap “sakit” karena menyukai sesama jenis, mendapatkan kepuasan bersetubuh dengan mayat, memburu kepuasan dengan anak di bawah umur, dan praktik seks komersial.
Cerpen Menggiring Belia mengisahkan tokoh Setia yang gemar bercinta dengan anak yang usianya lebih kecil. Begitu pula pada cerpen Tentang Mimpi & Cerita Lainnya, tentang kakek yang menyetubuhi cucunya. Pada Aurat Si Mayat, tokoh Nohan mencari kepuasan seksual dengan menyetubuhi mayat. Lelaki Kantong Sperma yang menjadi judul kumpulan ini bercerita tentang laki-laki, seorang bapak/suami yang tidak berguna, yang tidak layak ditiru.
Pada Di Ujung Percakapan Kontempoter, tokoh Tiara terjebak kebuasan ayah dan praktik seks komersial. Cerpen Parafilia bercerita tentang kisah predator anak. Kasus pedofilia di Bali sudah terjadi sejak 1990an. Cerpen terakhir, Percakapan Sembilan Pencarian yang menggunakan format bercerita yang unik, bercerita tentang seorang yang depresi.
Pada sembilan cerpen tersebut, hampir semua tokoh utama mengalami kekecewaan yang mendalam. Berbagai kisah namun satu benang merah, seksualitas. Hal ini membuat mereka, para tokoh dalam cerpen, melakukan hal-hal yang menyimpang hingga pantas untuk dipidana.
Di dalam kumpulan cerpen ini, posisi perempuan juga begitu lemah. Tampak, kenyataan masyarakat yang masih kental dengan budaya patriarki menyebabkan perempuan-perempuan dalam kumpulan cerpen Lelaki Kantong Sperma, sama lemahnya seperti di dunia nyata. Para perempuan selalu menjadi korban.
Membaca sembilan kumpulan cerpen dalam Lelaki Kantong Sperma membuat saya berkesimpulan bahwa seks adalah hal yang penting. Meski kadar penting bagi tiap orang berbeda-beda. Juli Sastrawan dalam cerita-ceritanya menyuarakan hal tersebut dari sudut pandang tokoh-tokohnya. Yang di dunia nyata, orang-orang tersebut dipandang orang yang “sakit”. Selain itu perlakuan yang diterima kaum minoritas marjinal (seperti beberapa tokoh dalam cerpen-cerpen ini) di dalam masyarakat memperlihatkan keadaan psikis masyarakat saat ini.
Cerpen-cerpen dalam kumpulan ini dengan cukup baik merespon fenomena yang terjadi sejak lama di masyarakat tempat teks itu lahir. Hampir setiap hari, koran-koran lokal maupun nasional mengabarkan peristiwa-peristiwa terkait seksualitas. Di Indonesia bisa ditemukan beragam perilaku seksual, mulai yang “dianggap” paling normal dan sah, seks dalam ikatan perkawainan, juga yang dianggap menyimpang seperti fedofilia, seks komersial, dan gay. Tak ada yang bisa melarang sastra merepresentasikan peristiwa tersebut.
Teks sastra harus memiliki kontribusi dalam bidang pendidikan di tengah masyarakat. Seksualitas terus hadir dalam wacana publik masyarakat Indonesia, seks bebas, seks komersial, LGBT, namun sayang masih ada standard ganda dalam meresponsnya. Sastra punya kontribusi dalam kehidupan masyarakat. Misalnya mengajak pembaca untuk menghayati peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh. Juga sebagai penyampai pesan ideologi untuk pembaca.
Masyarakat seakan telah ditentukan tentang batasan dan norma dalam seksualitas, mana yang normal atau abnormal. Jika batasan tersebut ditiadakan, mungkin saja tiap manusia akan bahagia, seperti yang diinginkan para tokoh dalam cerpen-cerpen ini. Namun perlu diingatkan lebih awal, membaca teks sastra dengan muatan seksualitas perlu kemampuan membaca kritis. Jika tidak, pembaca akan terjebak dalam vulgar, sensor, dan norma-norma lain yang telah mengakar dalam kepala masing-masing.
Memang konten yang berhubungan dengan seksualitas sangatlah sensitif. Untuk menyikapinya tidak melulu dengan penyensoran melainkan penumbuhan keterampilan pembacaan kritis terhadap teks. Harapannya, pembaca akan mendapatkan nilai-nilai serta pesan ideologis yang terkandung dalam teks sastra tersebut.
Kevulgaran itu sangat kompleks. Melihat dari judul kumpulan ini, yaitu Lelaki Kantong Sperma, terdapat kata ‘sperma’ yang mungkin saja dianggap vulgar. Perlu disadari, kata itu bukan kasar atau vulgar, tapi kevulgaran yang secara nyata ada dalam masyarakat dan direpresentasikan dengan jujur.
Meskipun ada ekspresi kurang berkenan bagi pembaca terkait penggambaran seksualitas secara eksplisit atau perilaku yang berlawanan dengan moralitas agama, hal ini harus direspons dengan kritis. Pembaca hendaknya bisa memilih mana yang ingin atau tidak ingin dibaca. Bukan malah menuntut penyensoran atau penarikan karya dari publik. Karya sastra memiliki keunikan yang tidak bisa disamakan dengan teks lain. Sastra memiliki beragam cara ekspresi yang kebebasannya perlu dijaga, agar dapat tumbuh dengan baik, sehingga mampu memberi kontribusi yang jujur dan bermanfaat. Maka, kumpulan cerpen Lelaki Kantong Sperma aman untuk dibaca dan bermanfaat mengedukasi masyarakat terkait seksualitas.
Silakan pembaca menginterpretasi cerpen-cerpen dalam kumpulan ini. Tiap cerpen bisa dibaca sebagai tanggapan penulis terhadap masanya, dari yang dilihat, dibaca, maupun didengar dari orang atau teman.

tulisan ini juga dapat dibaca di tatkala.co

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>