Pages Navigation Menu

Bahaya Rendahnya Tingkat Literasi

Penulis asal Mesir, Sayyid Qutb (1906-1966) pernah melontarkan kalimat terkenal, satu peluru bisa menembus satu kepala, satu buku bisa menembus ribuan, bahkan jutaan kepala. Perumpamaan yang meninjukkan betapa besar kehadiran buku. Sayang, minat baca masyarakat Indonesia masih rendah. Hal ini membuat Indonesia masih tergolong dalam tingkat literasi rendah (peringkat ke-61 dari 62 negara yang dinilai UNESCO).
Upaya telah dilakukan oleh pemerintah namun masih terbatas. Wajar saja, Indonesia begitu luas dan belum semua lapisan masyarakat menyadari pentingnya literasi dalam kehidupan. Infrastruktur terkait literasi seperti buku dan akses terhadap bacaan berkualitas masih terbatas. Harga buku mahal, bahkan lebih mahal dari pada kuota internet. Keberadaan perpustakaan juga belum dimaksimalkan. Perpustakaan tidak ramah terhadap masyarakat. Perpustakaan terkesan angker dan hanya bisa dimasuki orang-orang tertentu saja.
Pembiasaan membaca buku selama 15 menit sebelum jam pelajaran di kelas dimulai juga semu. Jangankan mengajak anak membaca, sebagian guru masih ogah-ogahan membaca. Padahal jika benar dilaksanakan, Gerakan Literasi Sekolah (GLS) ini dapat mendorong kreativitas literasi anak yang dimulai di sekolah. Harapannya akan segera menjalar pada kehidupan anak di rumah hingga bangsa.
Aktivitas membaca akan membuka jendela wawasan dan memperkaya perpendaharaan pengetahuan. Sayangnya, kemampuan membaca sebagian besar anak relatif rendah. Sangat sering, anak-anak saya di sekolah mengeluh tentang soal-soal ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia. Soalnya panjang-panjang, kata mereka. Mereka juga mengatakan teks-teks soal juga kerap membingungkan dan sulit dipahami.
Setidaknya dari keluhan anak-anak tersebut, saya dapat simpulkan dua hal. Pertama, kemampuan membaca anak memang rendah. Jelas terlihat, anak tidak dapat memahami isi teks sehingga tak bisa menjawab soal. Kedua, motivasi untuk membaca serius kurang. Aktivitas membaca anak-anak zaman sekarang sesungguhnya cukup intens, namun bacaan mereka hanya sekadar untuk hiburan. Selain karena akses bacaan berkualitas relatif mahal. Aktivitas membaca menjadi begitu istimewa.
Mengutip riset Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada 2017, frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata hanya 3-4 kali per minggu. Lama waktu membaca per hari rata-rata hanya 30-59 menit. Jumlah buku yang dibaca per tahun rata-rata 5-9 buku. Jadi, rata-rata tingkat kegemaran membaca orang Indonesia hanya 36,48 persen, atau digolongkan rendah.
Anak bisa gemar membaca tentu harus dibiasakan sejak dini. Tingkat membaca anak rendah karena tidak dibangun kebiasaan membaca sejak kecil. Dalam hal ini, perlu peran aktif orang tua. Baik dalam bentuk dukungan atau apresiasi maupun model untuk anak.
Meningkatkan minat baca hingga menjadi budaya baca perlu waktu yang panjang. Pemerintah harus mendukung dengan proyek-proyek jangka panjang. Selain harus dimulai dari tahap paling dasar, mulai anak-anak, dan lingkup kecil, yaitu diri sendiri. Sebab budaya membaca perlu ditanamkan pada tiap anak sejak dini untuk memunculkan ide dan gagasan yang bernas. Akhirnya bangsa ini memunculkan pemikiran-pemikiran kritis, tidak pragmatis.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>