Pages Navigation Menu

Mengenal Bali Hari Ini

Judul buku : Surat uli Amsterdam
Penulis : Ketut Sugiartha
Penerbit : Pustaka Ekspresi
Cetakan : I, 2018
Tebal : vi + 82 halaman
ISBN : 978-602-5408-18-2

Detak sastra Bali modern relatif dinamis. Sejak kemunculan Nemoe Karma, kemunculan karya-karya yang konsisten tiap tahun dari para penulis sastra Bali modern menjadi salah satu alasan. Alasan lain, keberadan rubrik Bali Orti, sisipan berbahasa Bali surat kabar Bali Post edisi Minggu, dan Mediaswari, rubrik berbahasa Bali surat kabar Pos Bali Minggu, menjadi media publikasi karya sastra Bali modern. Rubrik-rubrik tersebut dengan konsisten memuat cerita pendek, puisi, prosa liris, dan cerita bersambung. Ini positif karena menghadirkan sastra Bali modern dalam kehidupan masyarakat Bali hari ini.
Keberadaan hadiah Sastra Rancage (sejak 1998 keikutsertaan sastra Bali) dan yang terbaru Gerip Meurip (mulai 2017) menjadi pilar penting dalam perkembangan sastra Bali modern. Ada rangsangan untuk para penulis sastra Bali modern untuk terus menulis, menerbitkan karyanya sehingga akan menambah kuantitas (harapannya juga kualitas) karya-karya sastra Bali modern. Fakta ini tentu akan membuat kehidupan sastra Bali modern makin stabil.
Sastra Bali modern merupakan bagian dari kebudayaan yang mengekspresikan dan mendokumentasikan gagasan masyarakat Bali. Mengapresiasi keberadaan sastra Bali modern merupakan salah satu langkah dalam memertahankan identitas Bali. Melihat gairah masyarakat Bali dalam belajar bahasa Bali serta menggunakannya dalam percakapan sehari-hari dan dalam bentuk teks sastra memberikan peluang yang lebih besar untuk keajegan Bali dan bahasanya. Sebab, sastra Bali modern juga ditentukan oleh jalan hidup bahasa Bali.
Keberadaan Buku kumpulan cerpen berbahasa Bali karya Ketut Sugiartha ini bisa jadi referensi yang memberikan pemahaman mengenai kehidupan masyarakat Bali modern. Karya ini juga menjadi dokumentasi terhadap tradisi masyarakat Bali yang tak lekang oleh zaman. Maka kumpulan cerpen ini bisa sebagai sumber pengetahuan dan tata bahasa (Bali).
Kumpulan cerpen berbahasa Bali berjudul Surat uli Amsterdam memuat dua belas cerita pendek. Cerita Janda lan Teruna Bagus, Surat uli Amsterdam, dan Pertiwi berkisah tentang cinta antar manusia. Ketiga cerita ini memiliki napas sama, yaitu tokoh manusia Bali modern yang masih menjunjung tinggi adat budaya tradisional.
Cerpen Pragina mengajak pembaca menggali arsip ingatan tentang kekejaman rezim dalam pergolakan politik. Betapa kekisruhan politik menyebabkan ketakutan yang mendalam bagi masyarakat. Bahkan trauma yang dilahirkan bisa menghantui seumur hidup.
Dokumentasi terkait tradisi dengan berbagai varian mitos dan kepercayaan masyarakat Bali muncul pada cerpen Nelokin Dadong, Warisan, I Pekak lan Lontarne, Sander Tatit, Balian, dan I Suasta Amah Leak. Mitos dan kepercayaan seperti pada cerpen-cerpen tersebut masih mewarnai sebagian hidup masyarakat Bali tradisional dan modern. Penceritaan ulang terhadap mitos yang ada di masyarakat Bali selalu menjadi ciri khas yang disajikan dalam sastra Bali modern. Meski cerita demikian sudah berkali-kali diadon dalam berbagai cerpen ataupun novel, Ketut Sugiartha tetap bisa menyajikannya dengan segar.
Membaca cerpen-cerpen ini membuat pembaca mendapatkan pengetahuan dan juga pelajaran hidup. Hal ini tidak bisa dimungkiri karena persoalan-persoalan yang diangkat dalam cerita tersebut berupa realitas “faktual” yang diolah dengan kreatif. Cerpen-cerpen dalam kumpulan ini sangat mungkin menjadi pelajaran penting yang tidak didapat di bangku-bangku sekolah.
Lebih khusus, Ketut Sugiartha juga menyampaikan kritik sosial cerpen-cerpennya. Paling menonjol pada cerpen Warisan dan I Pekak lan Lontarne yang menggambarkan situasi terkini tentang sebagian masyarakat Bali yang melupakan adat dan tradisi yang telah dimiliki secara turun temurun. Harapannya, kritik dalam dua cerita ini bertuah.
Relasi personal yang rumit muncul pada dua cerpen terakhir, Olivetti dan Inguh. Dua cerpen ini bertitik tekan pada penggambaran karakter para tokohnya dengan konflik psikologis yang berat dan rumit. Kemunculan Olivetti membawa kebaruan dalam sastra Bali modern. Sebab, masih sangat jarang cerpen berbahasa Bali berbentuk surealisme.
Bermacam tema yang dihadirkan dalam kumpulan ini memang tidak ada yang baru. Namun, kesegaran penyajian serta kelihaian Ketut Sugiartha dalam mengolah arsip-arsip ingatan menjadi daya tarik cerpen-cerpen dalam kumpulan ini. Gambar cover juga menjadi daya tarik lain kumpulan ini. Jarang saya temukan buku-buku sastra Bali modern memiliki cover yang bagus. Tidak bisa dimungkiri, calon pembaca akan menilai cover sebelum membaca isinya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *