Pages Navigation Menu

Siswa Harus Menyontek

Pada sebuah siang yang terik, saya mengadakan ulangan harian. Ruang kelas yang letaknya di lantai tiga bagian pojok, tanpa pendingin ruangan, serta jarak dengan kebisingan jalan raya relatif dekat, menambah ketidaknyamanan. Suasana itu tercermin di wajah para siswa.

Tampak sebagian besar siswa tidak cukup persiapan dalam menghadapi ulangan kali ini. Para siswa tahu, ulangan yang saya berikan pasti berupa soal uraian. Jadi perlu usaha yang cukup besar untuk menjawab atau setidaknya mengarang jawaban. Namun, tak ada pilihan lain bagi mereka selain menghadapi ulangan kali ini.

Setelah saya menayangkan soal-soal melalui proyektor, air muka para siswa terlihat serius. Ada sebagian siswa yang tampak tegang hingga keringat menetes bahkan hingga membasahi lembar jawaban mereka. Sebagian lagi menatap soal dengan tatapan kosong, entah di mana jiwa mereka singgah.

Sesungguhnya, soal-soal yang saya berikan tidak mustahil untuk dijawab. Soal telah disusun sesuai indikator demi tercapainya tujuan pembelajaran, seperti teori-teori yang diberikan ketika pelatihan-pelatihan penerapan K13.

Seharusnya soal-soal bisa dijawab andai mereka mengikuti proses dengan sebagaimana mestinya. Andai mereka membaca modul dan refrensi lain yang saya sarankan. Andai mereka tidak asyik bermain mobile legends ketika proses pembelajaran di kelas. Andai mereka tidak ngumpet di kantin atau WC sekolah saat pembelajaran berlangsung.

Ternyata, ulangan harian bukanlah persoalan yang sesederhana itu. Meski soal sudah disusun seideal mungkin, bukan berarti ulangan bisa berjalan sesuai rencana. Ulangan harian masih menjadi momok menakutkan. Tidak mengikuti ulangan harian berarti siap-siap mengikuti ulangan susulan.

Jika mendapat nilai di bawah ketuntasan belajar (dulu namanya KKM), berarti siap menempuh remedial. Jadi, ulangan harian harus diikuti dengan kesadaran dan kesiapan penuh, baik secara fisik maupun psikologis.

Jangan sekali-kali mengikuti ulangan dalam keadaan sakit. Sebab hasilnya tak akan maksimal. Apalagi mengikuti ulangan saat keadaan psikis tidak sehat. Misalnya menangis sesenggukan setelah putus dengan pacar atau tiba-tiba kesurupan saat menjawab soal-soal ulangan. Tentu kelancaran penyelenggaraan ulangan akan terganggu. Itu berarti kerugian untuk diri sendiri dan teman-teman sekelas. Bisa jadi nilai ketuntasan belajar gagal diraih.

Begitu banyak tantangan yang dihadapi para siswa agar ulangan berjalan lancar, serta hasil yang didapat maksimal. Maka solusi yang sering diambil siswa agar “semua terlihat baik-baik saja” adalah dengan menyontek. Menyontek tentu bukan pilihan satu-satunya. Tetapi menyontek menjadi satu-satunya pilihan yang dimiliki para siswa setiap ulangan. Sayangnya, keterampilan menyontek siswa-siswa saya cetek.

Kegiatan evaluasi belajar semacam ini wajib dilakukan. Mulai dari tingkat rendah, ulangan harian hingga tingkat tertinggi ujian nasional. Sebelum para siswa benar-benar memiliki kesiapan menghadapi ujian hidup. Kelak, ketika mereka dewasa.

Kelancaran terselenggaranya ulangan harian hingga ujian nasional tentu melibatkan berbagai lapisan, mulai dari siswa hingga pengawas ulangan/ujian, mulai dari penyusun soal sampai kebijakan sekolah. Kelancaran terselenggaranya ulangan juga berarti mempersempit terjadinya kecurangan. Menyontek adalah salah satu praktik kecurangan dalam ulangan. Kecurangan semacam ini bisa sangat terstruktur dan menjadi kebiasaan.

Mengubah Persepsi

Saya masih heran dengan pandangan para siswa yaitu meraih nilai setinggi-tingginya dalam ulangan/ujian, tanpa memikirkan kualitas diri. Pandangan ini tentu berefek buruk, yaitu mengejar nilai. Padahal evaluasi melalui ulangan salah satunya bertujuan mengukur perubahan yang telah terjadi pada siswa selama mengikuti proses.

Entah siapa yang memulai, mengatakan menyontek adalah budaya, sehingga para siswa turut melestarikannya. Seperti pada kejadian siang itu. Saat ulangan harian sudah berjalan lima belas menit, lembar jawaban siswa masih kosong melompong.

Apa daya, para siswa tidak cukup siap menghadapi ulangan harian saya hari ini. Mereka saling menunggu jawaban sambil memohon kepada dewa menurunkan jawaban dari langit. Sebagian dari mereka tergiur menyontek akibat ketuntasan belajar yang harus mereka capai. Padahal jelas-jelas menyontek saat ulangan adalah perilaku yang buruk. Mereka pun tahu, menyontek saat ulangan adalah perbuatan dosa. Menyontek juga berarti siap mendapat nilai yang tidak halal.

Mengingat semakin banyak perilaku individu yang menyimpang. Sebab menyontek sudah masuk kategori menyimpang, entah sejak kapan. Pendidikan karakter harus ada dalam proses pendidikan di mana pun, termasuk sekolah. Kejujuran adalah salah satu dari 18 nilai pendidikan karakter. Menyontek berarti tidak jujur. Menyontek harusnya tidak bisa dimaklumi.

Kegiatan menyontek pada saat ulangan tentu tidak bisa dimaafkan. Sebab menyontek pasti dilakukan secara sengaja. Demi mendapatkan nilai tinggi dengan cara yang tidak jujur. Sekali lagi, apa daya para siswa harus menyontek demi nilai ketuntasan belajar. Menghalalkan segala cara (membohongi diri sendiri, guru, orang tua, serta negara) agar meraih “keberhasilan akademis” tanpa harus bersusah payah.

Ada banyak bentuk menyontek yang sering dilakukan siswa. Cara-cara tersebut beragam mulai dari yang sederhana hingga yang canggih. Pertama, menyontek dengan mencuri jawaban teman atau membuat contekan dari rumah. Dalam konteks ulangan atau ujian (apapun istilah yang digunakan), mencuri jawaban bukan tindakan terpuji. Kedua, menyontek bersama-sama, misal dengan membuat grup di media sosial lalu menyebarkan jawaban di sana.

Meski cara menyontek sudah sedemikian berkembang, sebaliknya keterampilan menyontek siswa semakin memprihatinkan. Meski begitu, demi meraih nilai tuntas dan tanpa remedial, para siswa harus menyontek.

Sayang sekali memang, para siswa seperti ini masih memiliki kepercayaan diri yang relatif rendah. Memelihara rasa malas dan mewarisi kebiasaan buruk. Belum lagi tekanan untuk mendapat nilai bagus. Pantas saja, siswa rela menyontek dengan risiko yang tak bisa dianggap remeh yang harus siap ditanggungnya.

Esai ini juga bisa dibaca di tatkala.co

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *