Pages Navigation Menu

Puisi Adalah Mesiu

Wiji Thukul bisa jadi penyair paling ditakuti pemerintah pada masa Orde Baru. Wiji adalah penyair pemberontak yang kerap mengkritik pemerintah melalui puisi. Puisi-puisinya dianggap bisa menggelorakan perlawanan. Efeknya, Wiji Thukul hilang.
Meski Wiji telah hilang, puisi-puisinya masih jadi inspirasi hingga sekarang. Kata-kata ternyata memiliki kekuatan yang hebat. Lebih-lebih dalam sebuah puisi dengan kegelisahan, cinta, mimpi, dan harapan yang bersenyawa. Puisi memiliki kesamaan dengan bubuk mesiu. Setidaknya dalam efek ledakan yang dihasilkannya.
Mari ingat kembali kalimat John F. Kennedy, presiden Amerika Serikat yang terbunuh itu. Katanya, “Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik itu bengkok, sastra akan meluruskannya.” Dengan kata lain, puisi atau sastra dapat mensterilkan sebuah ruang. Kata-kata dalam puisi, memiliki kekuatan.
Jika bubuk mesiu memiliki senyawa yang dengan cepat meledak. Puisi meletup-letup dengan rasa, gugatan, kesemasan, gagasan, dan perenungan. Senyawa dalam puisi dapat meledak seketika atau perlahan dalam waktu yang panjang. Ibarat bubuk mesiu, puisi dapat meledakkan tatanan sosial, ekonomi, pendidikan, hingga batin masyarakat. Melalui puisi, Wiji melakukan pemberontakan. Ia menjadi buronan rezim Orde Baru sejak 1996 hingga dinyatakan hilang pada 1998.
Cerita itu datang dari Indonesia. Wiji Thukul melahirkan puisi-puisi dengan daya ledak yang berbeda-beda. Entah karena takaran senyawa yang dicampur berbeda, sehingga menghasilkan ledakan yang lemah, medium, atau kuat. Namun, efeknya tetap sama, rezim Orde Baru tak bisa nyaman.
Jika melangkah lebih ke belakang, di Indonesia muncul syair-syair perang pada buku syair perang mengkasar yang ditulis pertama kali oleh juru tulis Sultan Hasanuddin, Enci’ Amin. Sebanyak 534 syair perang Mengkasar dihimpun Enci’ Amin. Ditulisnya saat perang melawan VOC.
Cerita lain datang dari Benua Amerika. Pada Februari 1948, sastrawan Pablo Neruda berkuda menembus rimba Argentina. Dengan memegang naskah kumpulan puisinya, ia melarikan diri dari kekuasaan Presiden Videla.
Puisi bisa jadi hal yang menakutkan bagi penguasa. Sebab puisi bisa mengeruhkan suasana. Sebaliknya, puisi juga dapat mencerahkan suasana. Sebuah puisi bisa juga menyadarkan nurani. Puisi bisa jadi berbahaya, bisa jadi tajam. Puisi bisa jadi pilihan senjata saat perang. Seperti yang dilakukan Wiji, saat perang melawan ketidakadilan. Dengan puisinya, Wiji menyuarakan suara-suara jutaan rakyat jelata yang tertindas.
Pada masa perang, puisi-puisi mulai diledakkan, bubuk mesiu disyairkan. Saat ketidakadilan muncul, ada dua pilihan. Tak melulu dilawan dengan cara melempar bubuk mesiu yang meluluhlantahkan peradaban. Dengan mensyairkan puisi, ledakan akan menyasar batin, memporak-porandakannya. Maka, puisi sesungguhnya adalah saudara dekat bubuk mesiu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>