Pages Navigation Menu

Puisi Adalah Mesiu

Keberadaan karya sastra sudah semakin dekat dengan masyarakat. Sastra hadir tidak hanya pada buku pelajaran Bahasa Indonesia, melainkan juga di film-film, surat cinta remaja, hingga media sosial.
Sebut saja Twitter, Facebook, dan Instagram sebagai pintu bagi masyarakat awam berkenalan dengan karya sastra, salah satunya puisi. Hal ini sejalan dengan fenomena pemanfaatan media sosial oleh para penulis untuk mengunggah karya-karya mereka. Media sosial menjadikan interaksi antara penulis dengan pembaca kian dekat. Meminjam istilah Jamal D Rahman, posisi karya sastra kian merakyat.
Jika berbicara puisi, tidak banyak yang menyadari akan efek sebuah puisi bagi pembaca atau pendengar. Sebuah puisi bekerja tanpa suara. Penyairnya bisa jadi adalah orang yang paling ditakuti, disegani pada sebuah masa.
Hampir pasti semua mengetahui Chairil Anwar dengan puisi terkenalnya “Aku” dan “Karawang Bekasi, atau Sapardi Djoko Damono dengan puisi “Aku Ingin”. Bahkan puisi Sapardi tersebut sering ditulis pada lembar-lembar kartu undangan pernikahan. Ini menjadi bukti sebuah puisi memiliki efek letup berbeda pada masing-masing jiwa manusia.
Wiji Thukul bisa jadi penyair paling ditakuti pemerintah pada masa Orde Baru. Keberadaan Wiji dan karya-karyanya sama menakutkannya seperti Pram, di jagat prosa. Wiji adalah penyair pemberontak yang kerap mengkritik pemerintah melalui puisi. Puisi-puisinya dianggap bisa menggelorakan perlawanan. Efeknya, Wiji Thukul hilang.
Meski Wiji telah hilang, puisi-puisinya masih jadi inspirasi hingga sekarang. Kata-kata dalam puisi ternyata memiliki kekuatan yang hebat. Lebih-lebih dalam sebuah puisi dengan kegelisahan, cinta, mimpi, dan harapan yang bersenyawa. Maka, puisi tersebut memiliki kesamaan dengan bubuk mesiu. Setidaknya dalam efek ledakan yang dihasilkannya.
Mari ingat kembali kalimat John F. Kennedy, presiden Amerika Serikat yang terbunuh itu. Katanya, “Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik itu bengkok, sastra akan meluruskannya.” Dengan kata lain, puisi atau produk sastra pada umumnya dapat mensterilkan sebuah ruang. Kata-kata dalam puisi, memiliki kekuatan.
Jika bubuk mesiu memiliki senyawa yang dengan cepat meledak. Puisi meletup-letup dengan rasa, gugatan, kesemasan, gagasan, dan perenungan. Senyawa dalam puisi dapat meledak seketika atau perlahan dalam waktu yang panjang. Ibarat bubuk mesiu, puisi dapat meledakkan tatanan sosial, ekonomi, pendidikan, hingga batin masyarakat. Melalui puisi, Wiji melakukan pemberontakan. Alhasil, ia menjadi buronan rezim Orde Baru sejak 1996 hingga dinyatakan hilang pada 1998.
Wiji Thukul melahirkan puisi-puisi dengan daya ledak yang berbeda-beda. Entah karena takaran senyawa yang dicampur berbeda, sehingga menghasilkan ledakan yang lemah, medium, atau kuat. Namun, efeknya tetap sama, rezim Orde Baru tak bisa nyaman.
Jika melangkah lebih ke belakang sebelum era Wiji, di Indonesia muncul syair-syair perang pada buku syair perang mengkasar yang ditulis pertama kali oleh juru tulis Sultan Hasanuddin, Enci’ Amin. Sebanyak 534 syair perang Mengkasar dihimpun Enci’ Amin. Ditulisnya saat perang melawan VOC.
Selain di Indonesia, di Benua Amerika juga pernah muncul penyair serupa Wiji. Pada Februari 1948, sastrawan Pablo Neruda berkuda menembus rimba Argentina. Dengan memegang naskah kumpulan puisinya, ia melarikan diri dari kekuasaan Presiden Videla. Mengapa? Sebab puisi Neruda siap meledak kapan saja dan ini yang ditakutkan oleh penguasa saat itu.
Puisi bisa jadi hal yang menakutkan bagi penguasa. Sebab puisi bisa mengeruhkan suasana. Sebaliknya, puisi juga dapat mencerahkan suasana. Sebuah puisi bisa juga menyadarkan nurani. Puisi bisa jadi berbahaya, bisa jadi tajam. Puisi bisa jadi pilihan senjata saat perang. Seperti yang dilakukan Wiji, saat perang melawan ketidakadilan. Dengan puisinya, Wiji menyuarakan suara-suara jutaan rakyat jelata yang tertindas.
Pada masa perang, puisi-puisi mulai diledakkan, bubuk mesiu disyairkan. Saat ketidakadilan muncul, ada dua pilihan. Tak melulu dilawan dengan cara melempar bubuk mesiu yang meluluhlantahkan peradaban. Dengan mensyairkan puisi, ledakan akan menyasar batin, memporak-porandakannya. Maka, puisi sesungguhnya adalah saudara dekat bubuk mesiu. Mungkin Wiji telah hilang, namun siapa pun bisa melempar bubuk mesiu pada saat yang dibutuhkan.

Esai ini dimuat juga oleh Pos Bali, 15 Juli 2018

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *