Pages Navigation Menu

Karena Dia Perempuan

Menjadi perempuan tidak pernah mudah, khususnya di Bali. Kerap kali para perempuan mendapat keraguan dan perlakuan yang berbeda oleh masyarakat terhadap kemampuan mereka. Meski begitu, perempuan harus membuktikan kemampuan mereka.
Bahkan perlakuan berbeda didapat perempuan oleh perempuan lain. Biasanya oleh para perempuan yang merasa “memiliki kuasa” terhadap perempuan lain yang lebih “lemah”. Banyak di antaranya mengalami berbagai macam kekerasan. Sebab pihak yang seharusnya memberikan rasa aman dan keadilan pun berlaku diskriminatif kepada perempuan. Persoalan demi persoalan dihadapi perempuan karena atribut jendernya. Maka perlu peran serta laki-laki dan perempuan untuk memutus rantai ketidaksetaraan jender ini.
Sistem patriarki yang masih kental dianut masyarakat di Bali membatasi ruang gerak perempuan. Mulai dari pembedaan perlakuan hingga menghambat bahkan memutus karier hanya karena pelekatan peran atau pekerjaan berbasis jender, seperti administrasi atau kesekretariatan. Status di keluarga juga menjadi kendala. Posisi perempuan dan istri dalam sebuah keluarga tidak boleh mengganggu karier suami. Dengan kata lain, seorang istri “dipaksa” mengalah demi kepentingan suami.
Sambutan berupa tatapan hingga perlakuan bahkan semakin meruncing ke arah perempuan dalam sebuah rumah tangga. Hal ini bisa berdampak ketidaknyamanan dan diliputi rasa ketakutan hingga trauma. Padahal baik laki-laki atau perempuan sama-sama tidak sempurna. Kesempurnaan hanya terjadi jika laki-laki dan perempuan menjalin kerja sama yang harmonis dan seimbang.
Perbedaan laki-laki dan perempuan adalah perbedaan yang saling melengkapi (komplementatif). Seharusnya, tidak ada perbedaan perlakuan sosial kehidupan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara. Negara tidak pernah membedakan perlakuan kepada laki-laki dan perempuan, masalah budayalah yang membelenggu perempuan untuk sama dengan laki-laki.
Sejak dulu sampai sekarang, fenomena ini masih terjadi. Seperti yang digambarkan cerpen berbahasa Bali berjudul Mula Saja Bekung (Memang Benar Mandul) yang dimuat Bali Post edisi Minggu, 29 April 2018. Cerita pendek karya Dewa Ayu Carma Mira ini menggambarkan fakta-fakta ketidaksetaraan jender masih terjadi di masyarakat.
Dalam cerpen diceritakan sebuah keluarga kecil yang awalnya damai. Namun pada sebuah momen, kedamaian itu hilang karena perlakuan mertua terhadap mantunya. Cahya, setelah enam bulan menikah belum juga hamil. Kenyataan ini membuat sang mertua kecewa. Keberadaan Gede Mega sebagai suami tidak berdampak apa-apa. Ia tak berdaya menghadapi dominasi ibunya dalam keluarga.
Keluarga dan anak menjadi topik pembicaraan manakala seseorang telah menikah. Tergambar dalam kehidupan masyarakat bahwa kehadiran seorang anak dalam keluarga melebihi nilai harta kekayaan. Kondisi yang terjadi di Bali, seperti yang digambarkan pada cerpen, terlalu gampang menghakimi terkait kehadiran keturunan dalam sebuah keluarga. Sebuah keluarga belum dikatakan harmonis jika belum dilengkapi adanya seorang anak.
Mesaut Men Tanjung, “Saja… suba jangkep pesan dini tusing kuangan apa, umah luung, panak suba nganten, suba pada magae….”
Ngenggalan Men Kondri nyelag mapi-mapi medalem, “Kewala ada ane kuangan, cucu konden ada dini. Adi suba makelo pesan tusing dadi-dadi, mirib I Gede Nyuang nak bekung.”
Artinya kira-kira begini.
Dijawab Men Tanjung, “Benar… semua sudah lengkap, di sini tidak kekurangan apa pun, rumah bagus, anak sudah menikah, semua sudah kerja….”
Cepat Men Kondri pura-pura prihatin, “Tetapi ada yang kurang, belum ada cucu di sini. Sudah lama menikah kok belum lahir, mungkin I Gede menikah dengan perempuan mandul.”
Eksistensi patriarkisme yang merugikan seperti pada dialog cerpen masih terjadi hingga hari ini. Keturunan dalam keluarga di Bali memang ditunggu-tunggu kehadirannya. Sebab, pada merekalah masa depan keluarga akan dituju. Sayangnya, hal ini hanya dibebankan pada pihak perempuan seorang. Padahal, kelahiran seorang anak adalah hasil dari suami istri, perempuan dan laki-laki.
Tampaknya, di Bali, pasangan suami istri yang tidak berhasil memeroleh keturunan dipandang tidak beruntung. Hal tersebut tercermin dari adanya nama julukan yang diberikan kepada pasangan suami istri tersebut, yaitu Nang Bekung dan Men Bekung (dalam bahasa Bali, Nang berarti ayahnya X dan Men berarti ibunya X, dan bekung berarti mandul). Oleh karena itu, lahirnya anak dalam suatu perkawinan sangat diharapkan. Selain itu ada anggapan bahwa setelah mempunyai cucu seseorang baru mencapai tujuan hidup.
Namun, tak bisa dimungkiri keberadaan keturunan dipengaruhi oleh banyak faktor. Tidaklah elok jika kesalahan hanya dibebankan pada satu pihak saja, yaitu pihak perempuan atau istri. Faktanya, inilah yang terjadi. Dalam kehidupan masyarakat Bali, laki-laki memiliki kedudukan dan peran yang diistimewakan. Bahkan anak laki-laki dalam sebuah keluarga tidak jarang menjadi anak emas.
Fakta ini disajikan pada akhir cerpen.
“Saja mula saja bekung, kewala dong Cahya, tiang ane bekung me.”
….
Sekat ento tusing ada ane bani ngortaang indik anak beling, panak utawi cucu. Makejang mapi-mapi engsap, siep, sepi jampi.
Artinya kurang lebih.
“Memang benar mandul, tetapi bukan Cahya, saya yang mandul, Bu.”
….
Sejak itu tidak ada yang berani membicarakan perihal hamil, anak, atau cucu. Semua pura-pura lupa, diam, sepi.
Padahal, peranan perempuan dalam segala aspek kehidupan sangat penting. Seperti yang dituliskan dalam Manawa Darmasastra Bab III sloka 55 dan 57, yang menyebutkan perempuan sebagai sumber kebahagiaan dan kesejahteraan.
Cerpen Mula Saja Bekung menyadarkan pembaca betapa beratnya beban yang harus dihadapi perempuan ketika menikah dan berstatus istri atau menantu. Maka tidak heran, sebagian perempuan takut menikah karena tidak siap dengan keadaan seperti pada cerpen. Ya, karena dia perempuan.

Esai ini juga bisa dibaca di Denpost 13 Mei 2018

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *