Pages Navigation Menu

Bukan Salah UNBK

Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bali merilis nilai hasil ujian nasional (UN) SMA/SMK 2018 (bisa dilihat di disdikpora). Hasilnya menunjutkan rata-rata UN tahun ini turun dibanding 2017. Dari hasil tersebut, mengerucut fakta Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) memicu penurunan tersebut.
Dua penyebab menurunnya nilai UN tahun ini, seperti dipaparkan Ketua PGRI Bali, I Gede Wenten Aryasuda di Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS) di Lapangan Renon, Minggu (13/5) yaitu dimasukkannya soal dengan standar lebih tinggi dan diberlakukannya UNBK. Dimasukkannya soal dengan standar yang lebih tinggi, tanpa diawali sosialisasi dan pelatihan guru. Pada UN 2018 ini, soal mengacu standar internasional seperti Programme for International Student Assesment (PISA) dan higher order thinking skills (HOTS). Beralihnya model Ujian Nasional Berbasis Kertas dan Pensil (UNKP) menjadi UNBK juga turut jadi penyebab. Sebab, pelaksanaan UNBK tanpa diimbangi dengan kesiapan infrastruktur, mulai masalah komputer hingga server yang tersendat.
Sekadar informasi, PISA merupakan salah satu program kerjasama di beberapa negara yang tergabung dengan OECD (Organiziation for Economic Co-operation and Development) untuk melihat perbandingan kemampuan akademis siswa di berbagai negara dalam bidang matematika, sains, dan membaca. Riset dilakukan tiap 3 tahun sekali. Riset terakhir (2012) melibatkan 510.000 orang siswa dari 65 negara, termasuk Indonesia. Hasilnya, nilai siswa-siswa Indonesia berada di urutan kedua dari bawah. Survei tetaplah survei. Harus tetap disikapi dengan kritis dari berbagai sudut pandang.
Jika membahas teknis penyelenggaraan UNBK tentu akan sangat banyak ditemukan kelemannya. Bahkan menyebabkan nilai rata-rata UN menjadi rendah. Hal ini tentu sangat bisa untuk diperdebatkan. Terlepas dari itu, UNBK tentu dilakukan untuk tujuan yang baik, seperti mewujudkan efektifitas, efisiensi, dan transparansi penyelenggaraan UN. Dengan kata lain, integritas pelaksaan ujian akan lebih baik.
Diselenggarakannya UNBK selalu menarik untuk dibahas. Sejak awal rencana hingga telah dilaksanakan beberapa kali, pro dan kontra terkait UNBK masih muncul silih berganti. Tak masalah, sebab fenomena ini baik demi terselenggaranya proses evaluasi terbaik untuk siswa-siswi kita. Lancar tidaknya UN tentu disebabkan oleh semua pihak.
Memang dalam pelaksaannya, UNBK masih banyak kendala, mulai ketidaksiapan penyelenggara hingga peserta ujian. Solusinya, perlu kerja keras dan kesabaran untuk menuju kesiapan 100% agar terselenggaranya UNBK tersebut. Hal ini berarti, ketertinggalan harus ditanggulangi secara bertahap untuk meningkatkan standar saat ini menuju standar internasional. Meningkatkan kualitas memang tidak instan.
Mengubah kebiasaan juga perlu proses. Penyelenggaraan UNBK tentu berbeda dengan UNKP. Begitupula suasana yang dirasakan oleh peserta ujian ketika UNBK dengan UNKP akan jauh berbeda. Baik pihak sekolah (panitia), peserta ujian, dan masyarakat harus memiliki kesamaan sudut pandang mengenai UNBK ini. Semua harus disikapi dengan positif bahwa perubahan yang paling kekal. Maka untuk menyikapinya perlu persiapan yang serius.
Tampaknya, fokus sudah harus dimulai sejak awal proses atau persiapan sebelum menghadapi UN. Masalah yang tidak kalah peliknya tentu luasnya bentang negara Indonesia berpengaruh pula dalam pelaksaan pendidikan. Jika mengambil satu bagian saja, misalnya Bali yang tentu memiliki SDM dan SDA yang jamak dalam mengelola proses di sekolah masing-masing. Sayangnya, praktik pendidikan cenderung seragam menurut acuan pusat.
Agar optimalnya mutu pendidikan tentu harus membebaskan keragaman dalam praktik pendidikan sesuai konteks lingkungan sekolah. Sebab pembelajaran aktif, kreatif, dan menyenangkan akan terwujud. Meski ditetapkan standar yang sama oleh pusat, proses untuk mencapainya tidaklah harus seragam.
Pemberlakukan dualisme kurikulum juga cukup mengganggu, sebab ada beberapa mata pelajaran yang berbeda muncul di masing-masing kurikulum. Sebagian sekolah masih menggunakan kurikulum 2006 (KTSP) dan kurikulum 2013 (K13). Maka, penyelenggaraan UN yang menggunakan soal seragam tentu adalah sebuah kesulitan bagi peserta ujian. Belum lagi, persoalan lain terkait kemampuan siswa, kondisi daerah serta sarana dan prasarana yang berbeda di seluruh Indonesia.
Pasca pelaksanaan UNBK 2018 ini, muncul berbagai komentar dari warganet terkait bobot soal yang dinaikkan atau soal ngawur, sehingga membuat nilai siswa jeblok. Tentu ini perlu dikaji dengan lebih mendalam. Menjadikan UNBK sebagai kambing hitam nilai yang diraih rendah tentu tidak elok. Apalagi usulan untuk memberhentikan menteri akibat kebijakan UNBK juga bukan solusi. Terpenting sekarang adalah bersama-sama menemukan solusi tepat agar pelaksaan ujian sukses sesuai tujuan yang hendak dicapai.
Jika ditelaah lebih lanjut, sesungguhnya soal-soal yang muncul di UN sudah sesuai. Hanya saja lebih menguji pemahaman peserta ujian dengan varian yang lebih kreatif. Maka, jika hanya menghafal bisa dipastikan akan kesulitan.
Pemahaman artinya mengetahui konsep dasar dari sebuah pengetahuan dan mampu mengaplikasikannya pada soal-soal secara konsisten. Jangan buru-buru menghakimi soal tidak sesuai, siswa bodoh, bisa saja proses yang ditempuh selama persiapan ujian yang tidak sesuai. Entah, SDM pendidik yang juga tidak paham, sehingga siswa tidak dibuat paham. Bahkan bisa jadi refrensi belajar yang tidak sesuai, seperti buku dan soal-soal latihan tidak berkualitas. Semua bisa saja, semua masih mungkin.
Menguji pemahaman adalah esensi ujian. Bukan hanya perkara meraih nilai setinggi-tingginya. Baik UNKP atau UNBK, jika esensi ujian tidak dipahami semua pihak tentu ujin hanya menjadi ritual tahunan tanpa makna. Hal ini kerap dilupakan. Selain belajar, paling penting dilakukan sebelum ujian adalah istirahat yang cukup. Sebab otak perlu disegarkan agar bisa menyelesaikan soal dengan optimal. Belajar hingga begadang (apalagi kurang tidur) hanya akan membuat pengerjaan soal tidak optimal. Rendahnya nilai yang diraih bukan semata-mata penggantian model ujian, bukan?
Percayalah, para guru juga telah berupaya meningkatkan kualitas, misalnya melalui pelatihan-pelatihan. Harapannya, guru-guru ini menjadi agen perubahan yang mendobrak kebiasaan menghafal rumus dan kisi-kisi. Sebab yang dibutuhkan zaman ini dan masa depan adalah individu-individu kreatif, berbudi pekerti, dan memiliki kemampuan nalar tinggi. Hal kecil yang harus mulai dilakukan guru adalah dengan menjadi model.
Untuk memeroleh kemajuan memang harus bersusah payah. Seperti pribahasa berakit-rakit dahulu, berenang-renang ketepian. Masyarakat hendaknya mengapresiasi perhatian pemerintah dalam bidang pendidikan untuk membentuk kecerdasan yang tinggi dibarengi karakter yang baik pula. Kemajuan pendidikan negara ini sedang diupayakan, salah satunya dengan UNBK. Kalaupun ada kekurangan, mestinya menjadi bahan evaluasi bersama.
Nilai ujian rendah bukan sepenuhnya salah UNBK. Jangan hanya mengejar nilai tinggi atau lebih senang mundur, tidak mandiri dalam menyelesaikan soal-soal untuk tetap berada di zona nyaman. Seperti yang diserukan Kemdikbud, “prestasi penting, jujur yang utama”.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *