Pages Navigation Menu

Catatan untuk Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

Beberapa tahun belakangan, sejak Kurikulum 2013 (K13) diterapkan, muncul Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Kemunculan GLS memiliki alasan yang kuat. Sebab menurut beberapa hasil riset, gerakan ini darurat untuk dilakukan. Lihatlah data-data yang dicatat Direktorat PSMK berikut. PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study) pada 2011 mencatat, Indonesia berada pada peringkat 45 dari 48 negara. Menurut PISA (Programme for International Student Assessment ), Indonesia masih berada pada peringkat 64 dari 70 negara (2015). Selanjutnya, menurut data INAP (Indonesia National Assessment Program) pada 2016, nilai kemampuan membaca masyarakat Indonesia hanya 46,83% atau tergolong kurang.
Literasi dalam konteks GLS merupakan kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara cerdas. Saya jadi ingat kalimat Mohammad Hatta yang mengatakan, membaca tanpa merenungkan adalah bagaikan makan tanpa dicerna. Seperti dipertegas Ketua Harian GLS, Wien Muldian (Kompas, 14/5/2018) bahwa literasi tidak hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga pendidikan karakter, kecerdasan finansial, pengetahuan sains, penggunan media digital yang baik, dan kewarganegaraan. Maka tujuan gerakan literasi ini adalah mendidik untuk menghasilkan manusia bijak mengambil keputusan.
Mari cermati pelaksanaannya di sekolah-sekolah, terutama di sekolah menengah. GLS seharusnya diimplementasikan dalam tiga tahap. Pertama, tahap pembiasan seperti yang tercantum pada Permendibud 23/2015 yaitu penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca. Kedua, tahap pengembangan yaitu meningkatkan kemampuan literasi melalui kegiatan menanggapi buku pengayaan. Ketiga, tahap pembelajaran yaitu meningkatkan kemampuan literasi di semua mata pelajaran: menggunakan buku pengayaan dan strategi membaca di semua mata pelajaran.
Secara teori GLS sangat bagus dan memiliki tujuan yang jelas. Permasalahan muncul ketika tahap praktik di lingkungan sekolah masing-masing. Sebab tantangan tertinggi GLS adalah rendahnya minat baca, baik guru maupun siswa. Selain pemanfaatan perpustakaan sebagai tempat tersedianya bahan-bahan literasi belum optimal.
Perihal membaca harusnya tidak menjadi beban. Guru harus menjadi model agar siswa gemar membaca. Apalagi zaman sekarang, bahan-bahan bacaan berlimpah mulai yang cetak hingga digital. Memang jika membeli akan relatif mahal, tetapi tidak akan lebih mahal dari pada kuota internet atau secangkir kopi di kedai. Tinggal dipilih, bahan-bahan literasi tersebut bisa didapat secara gratis atau berbayar.
Salah satu tempat melimpahnya bahan literasi tentu perpustakaan. Apalagi. hampir tiap sekolah memilikinya. Sayang, pemanfaatnnya yang belum optimal. Perpustakaan harus mulai digunakan sebagai pusat literasi. Faktanya, perpustakaan sekolah berfungsi sekadar sebagai tempat penyimpanan buku.
Fungsi tersebut disebabkan karena tak ada kurasi buku sesuai minat dan kebutuhan siswa. Buku-buku yang ada sebagian besar berupa buku tua atau buku-buku dengan topik tidak sesuai minat siswa. Buku-buku tersebut kebanyakan adalah buku lama atau buku hasil sumbangan dari siswa menjelang tamat.
Buku-buku yang disimpan di perpustakaan mayoritas berupa buku pelajaran dari pemerintah. Sehingga, perpustakaan belum menjadi tempat ramah untuk belajar banyak hal. Idealnya, perpustakaan secara konsisten memperbarui koleksi buku demi memenuhi kebutuhan warga sekolah untuk belajar dan akan bacaan yang relevan.
Beruntunglah sekolah-sekolah yang memiliki anggaran, meski tak banyak, untuk pembelian buku. Sebab salah satu ketentuan penggunaan dana bantuan operasional sekolah ialah melengkapi koleksi perpustakaannya. Meski begitu, kebutuhan bahan bacaan di sekolah belum teratasi.
Sebab lain karena tidak adanya pustakawan profesional di perpustakaan sekolah. Data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat, 96 persen perpustakaan sekolah di Indonesia tidak memiliki pustakawan. Pengurus perpustakaan umumnya ialah guru yang diberi tugas tambahan. Bahkan kadang, petugas perpustakaan tidak begitu bersahabat dengan pengunjung sehingga semakin membuat mereka enggan datang kembali.
Harusnya pustakawan tersebut, meski hanya seorang guru dengan tugas tambahan dan tidak memiliki latar belakang terkait, bisa dilatih mengenai literasi. Selanjutnya bisa diberi kewenangan memilah dan memilih buku untuk dikoleksi perpustakaan. Jadi, perpustakaan menjadi lebih optimal.
Perpustakaan sekolah akan menjadi pusat literasi perlu penguatan-penguatan tersebut dan bisa berjejaring dengan taman bacaan atau komunitas literasi di lingkungan sekitar. Bila perlu, tengok cara negara tetangga dalam mengelola perpustakaan mereka. Sebut saja satu contohnya, Singapura.
Di Singapura, perpustakaan sudah menjadi tempat ramah untuk belajar banyak hal. Tidak hanya menyediakan buku-buku, perpustakaan di Singapura juga menyediakan berbagai sarana dan fasilitas yang menunjang untuk mengembangkan diri. Juga lengkap dengan pustakawan dan relawan yang dengan sukarela membagi pengetahuan dan mempromosikan bacaan. Perpustakaan di sana juga menyediakan ruang-ruang berdiskusi. Peminjaman buku-buku pun sudah bisa dilakukan secara daring. Hal ini membuat peminjaman maupun pengembalian buku bisa dilakukan dengan lebih efisien.
Kondisi di Indonesia masih jauh panggang dari pada api. Namun, belum terlambat untuk diupayakan. Meski masih compang-camping di awal, GLS adalah upaya yang baik andai saja diterapkan dengan sungguh-sungguh.
Tentu saja catatan-catatan ini layak untuk direspons agar GLS tidak hanya sebatas program. Namun benar-benar menjadi sebuah upaya menjadikan sekolah sebagai lingkungan akademik yang literat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *