Pages Navigation Menu

Memupuk Daya Kritis Anak

Peran orang tua dalam sebuah keluarga sangat penting. Apalagi dalam hal memfasilitasi daya kritis anak. Sangat diharapkan dalam lingkungan keluarga tumbuh tradisi berpikir yang kritis.
Saya jadi ingat dengan keluarga pelaku teror dalam dua kasus terorisme di Surabaya, 13-14 Mei lalu, adalah contoh keluarga terencana dan berketahanan. Namun arah mereka keliru. Sangat disesalkan fenomena doktrinasi terhadap anggota keluarga, termasuk anak-anak, hingga menjurus pada aksi teror.
Tampak yang terjadi, orang tua membatasi akses informasi kepada anak. Hasilnya sangat fatal. Anak-anak mengonstruksi informasi dan pengetahuan tanpa versi pembanding. Dalam benak anak terbangun sebuah prinsip hanya keyakinan mereka yang benar. Sebab tidak dibarengi perhatian dan verifikasi dari orang tua. Maka, peran orang tua mutlak dibutuhkan. Orang tua tidak boleh abai dengan daya kritis anak. Efeknya bisa jadi membahayakan.
Pada zaman modern seperti saat ini, para orang tua terlalu sibuk hingga melupakan perhatian kepada anak. Jika hal seperti ini terjadi terus menerus, tidak akan baik untuk perkembangan anak. Apalagi bagi anak-anak dengan daya kritis yang tinggi. Seperti seorang anak bernama I Sudarma pada cerpen berbahasa Bali berjudul Gumine I Pidan Mawarna Selem lan Putih (Dulu, Dunia ini Berwarna Hitam dan Putih). Cerpen karya I Putu Supartika ini dimuat Pos Bali edisi Minggu, 20 Mei 2018.
Sebuah cerpen yang didominasi percakapan lugu dua orang anak usia empat tahun namun penuh renungan. Memang agak ganjil, anak usia empat tahun bisa mengobrolkan hal-hal yang sebenarnya prinsip. Namun, Supartika membuat kita percaya bahwa dialog-dialog tersebut mungkin saja oleh anak-anak dengan daya pikir kritis seperti tokoh I Sudarma dan sahabatnya.
Dengan penceritaan yang mengalir, banyak sekali ditemukan hal menarik dalam cerita ini. Pertama, gagasan yang mengatakan dunia itu berwarna hitam dan putih. Pertanyaan besar dimunculkan tokoh I Sudarma setelah melihat foto zaman dulu yang memang warnanya hanya hitam putih.
Sakewala ia matakon di kenehne disubane nepukin potrekane totonan: i pidan berarti gumine tusing mawarna cara jani? Tuah mawarna selem ajak putih?
Artinya kurang lebih begini. Namun ia bertanya di dalam hati setelah melihat foto itu: berarti dulu dunia ini tidak berwarna seperti sekarang? Hanya berwarna hitam dan putih?
Dialog tersebut hanya satu contoh sebuah dugaan dari seorang anak tentang hal-hal yang mereka lihat. Maka, orang tua yang harusnya menjelaskan fakta sehingga dugaan tersebut tidak buru-buru menjadi sebuah simpulan yang salah. Jika hal tersebut terjadi, maka pengetahuan-pengetahuan yang salah terlanjur tertanam dalam diri anak.
Akibat inilah yang digambarkan pada cerpen. Terdapat pada dialog berikut. “I pidan gumine warnane selem ajak putih Me?” Memene ane sedek sibuk nguyeg sambel tusing pedas ningeh patakon pianakne lan masaut bawak: ae!
Artinya kurang lebih begini. “Apa dulu dunia ini berwarna hitam dan putih, Bu?” Ibunya yang sedang sibuk mengulek sambel tidak terlalu mendengar pertanyaan anaknya dan langsung menjawab: iya!
Kedua, fakta tentang pola mengasuh anak zaman sekarang yang memprihatinkan. Bisa dicermati pada dialog I Sudarma dengan ibunya tersebut. Letak kekeliruan tokoh Ibu, jelas. Terlalu abai menjawab pertanyaan kritis anak. Hal ini tak boleh dilakukan sebab anak akan merekam dan meniru orang tuanya. Terlepas benar atau salah. Sebab anak belum mampu memverifikasi informasi yang didapat.
Ketiga, anak dan orang tua memiliki relasi yang kuat. Hal-hal yang dilakukan anak juga menjadi tanggung jawab orang tua. Jangan sampai orang tua tidak tahu menahu terkait anaknya sendiri. Ini digambarkan dalam beberapa dialog berikut.
“I pidan warna gumine selem ajak putih. Tusing cara jani warna-warni.”
“Nyen ngorahin Cai?”
“I meme jumah.”
Artinya kurang lebih begini.
“Dulu dunia ini berwarna hitam dan putih. Tidak warna-warni seperti sekarang.”
“Siapa yang memberitahumu?”
“Ibuku.”
Para orang tua harus menyadari hal-hal yang pernah disampaikan kepada anaknya. Sekaligus juga bertanggungjawab akan perkataan-perkataan mereka. Sebab, anak akan selalu percaya dan meniru orang tuanya.
“Ten Bu Guru. Nika takonin ja memen tiange. Memen tiange manten ngorahang warnan gumine ipidan selem lan putih. Tiang percaya ajak memen tiange,” keto I Sudarma mamunyi sambilanga nujuang memene ane masadah di tembok kelase.
Artinya kurang lebih begini. “Bukan Bu Guru. Tanyakan saja Ibu saya. Ibu saya saja mengatakan warna dunia ini hitam dan putih. Saya percaya dengan ibu saya,” kata I Sudarma lalu mengarahkan telunjuknya ke arah ibunya yang berdiri sambil bersandar di tembok kelas.
Pertanyaan kritis yang ditanyakan oleh tokoh I Sudarma cukup layak direnungkan, bahkan oleh orang dewasa sekalipun. Sepanjang hidup yang sebetulnya tidak bertujuan ini, konsep dunia yang hitam putih ini layak direnungkan. Sebuah konsep yang cukup sulit untuk dikomentari, sebab ada benarnya juga. Seperti konsep surga dan neraka, baik dan buruk. Di Bali dikenal dengan konsep rwa bhineda.
Sebetulnya, hal pertama yang diperhatikan dalam sistem mendidik anak ialah tidak boleh mematikan imajinasi anak. Ini sebetulnya tantangan besar. Bukankah tujuan pendidikan untuk memerdekakan manusia? Kadang, sebagian orang tua tidak memahaminya. Maka yang terjadi hanya anak yang patuh dan orang tua menjadi sumber ilmu tunggal.
Jangan sampai karena orang tua yang terlalu sibuk, abay memberikan perhatian cukup kepada anak-anak. Cara yang digunakan bisa beragam sesuai kondisi di keluarga masing-masing. Harapannya, orang tua juga memperkuat kemampuan dasar literasi siswa. Sebab sekolah tak bisa sendiri dalam menumbuhkan budaya literasi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *