Pages Navigation Menu

Mitos di Panggung Modern

Mitos di Panggung Modern

Catatan Pentas Drama Musikal Capung Hantu

Bali adalah pulau kecil, luasnya pun hanya 5.780 km persegi dengan jumlah penduduk sekitar 4,5 juta jiwa. Meski begitu, pulau ini tidak luput dari perubahan iklim yang terjadi secara global. Dampaknya mulai dirasakan oleh masyarakat, seperti musim kemarau lebih panjang hingga penurunan populasi capung.
Capung merupakan serangga terbang pertama di dunia. Capung adalah serangga akuatik. Hidupnya bergantung pada kualitas air. Di Indonesia ada beragam jenis capung. Beberapa sumber menyebutkan Indonesia memiliki sekitar 900 jenis capung. Sebagian besar capung hanya tinggal di lingkungan bersih. Maka capung bisa digunakan sebagai indikator kualitas air. Meski riset tentang dampak perubahan iklim terhadap populasi capung belum banyak dilakukan.
Sebagai generasi yang tumbuh tahun 90an ke belakang, pasti kerap melihat keberadaan capung. Bahkan, bersama teman-teman sering berburu capung dengan menggunakan getah buah nangka atau umpan capung yang lebih kecil. Itu dulu, saat capung masih banyak ditemukan di lingkungan sekitar tempat tinggal.
Ketika sains, teknologi, dan logika memenuhi ruang-ruang masyarakat masa kini, sebuah mitos tetap memiliki ruang tersendiri di antaranya. Begitu pula dengan mitos capung hantu yang tetap menjadi sebuah misteri. Bahkan ketika wacana isu lingkungan dihubung-hubungkan dengan mitos. Masyarakat lebih meyakini mitos. Sebab sebagian masyarakat dibesarkan bersama mitos tersebut.
Mitos tetap ada, namun para capung semakin jarang ditemui. Begitu pula permainan anak-anak sudah berubah begitu modern. Tidak ada lagi anak-anak yang bermain berburu capung, bermain lempar tanah di sawah. Anak-anak zaman sekarang sibuk bermain gawai di kamar atau di kedai. Bagaimana jika mitos dibawa ke panggung dengan pendekatan modern? Inilah yang dilakukan oleh Heri Windi Anggara dan Kelompok Sekali Pentas.
Pementasan yang digelar Minggu, 20 Mei 2018 di Gedung Ksirarnawa Art Centre, Denpasar ini bekerja sama dengan banyak kelompok seni di Bali. Sebut saja, Komunitas Mahima, Teater Kalangan, Sanggar Poerbatjaraka, Komunitas Senja, Teater Lajose, dan masih banyak lagi. Kolaborasi kolosal yang mendukung upaya dalam membangun emosi dan ruang-ruang panggung pementasan ini.
Dipentaskannya drama musikal Capung Hantu oleh Kelompok Sekali Pentas mengajak penonton bernostalgia dengan masa kecil. Dalam pentas tersebut, penonton disuguhkan permainan-permainan anak-anak zaman dulu seperti menangkap capung, petak umpet, lompat-lompatan, dan bermain kelereng. Tebak-tebakan serta lelucon masa kecil tak luput menjadi suguhan dan berhasil melempar penonton jauh kembali ke masa kecil.
Drama musikal Capung Hantu diadaptasi dari cerpen karya Made Adnyana Ole yang berjudul “Capung Hantu, Dayu Bulan, dan lain-lain”. Mengusung konsep drama musikal, Kelompok Sekali Pentas memberikan sebuah kesegaran terhadap gegar operet yang beberapa tahun belakangan melanda panggung-panggung teater di Denpasar. Tampaknya ruang ini menjadi lahan potensial yang layak dieksplorasi.
Dalam pementasan ini, capung hantu hadir sebagai mitos, nostalgia, bahkan sebagai pengingat akan perilaku manusia yang telah melewati batas. Lelucon-lelucon kekinian yang dilontarkan para capung hantu berhasil memutus jarak fana dan nyata dalam kehidupan. Sehingga mitos tetap diyakini dan ditakuti bahkan oleh manusia modern sekalipun.
Pentas ini menggunakan tata panggung yang sederhana namun berfungsi maksimal. Seperti, air terjun, pepohonan, rumput, dan rangkaian bambu melahirkan sejumlah ruang visual pada kepala masing-masing penonton. Begitupula alunan musik latar dan musikalisasi puisi yang dihadirkan memenuhi ruang auditif penonton.
Tanpa terlebih dulu membaca cerpen Capung Hantu, para penonton tetap bisa menikmati drama musikal ini. Fokus cerita pementasan ini ialah tentang mitos capung hantu yang masih dipercaya masyarakat Bali. Bahwa siapa yang mematahkan sayap capung hantu, akan disembunyikan ke dunia gaib. Keberadaan mitos semacam itu tetap eksis hingga hari ini. Perihal apakah mitos ini hanya untuk menakut-nakuti atau ada hal lain yang lebih penting, namun tidak bisa dijelaskan orang-orang zaman dulu. Seperti pesan-pesan untuk menjaga kelestarian hewan dan alam, misalnya. Nyatanya mitos tetap punya ruang di kepala kita.
Akhir cerita dibuat menggantung yang menyerahkan penonton untuk menginterpretasikan sendiri. Tokoh Dayu Bulan hilang, ibunya bingung mencari. Warga desa menduga Dayu Bulan disembunyikan capung hantu. Mereka percaya dan membunyikan kentongan beramai-ramai.
Ada motif kerinduan akan masa kecil yang muncul dari wajah para penonton. Adegan begitu cair dan nyaris tak berjarak. Durasi pementasan hampir dua jam tak terasa, sebab cerita dan lagu-lagu yang dinyanyikan para aktor, aktris, dan chorus-nya begitu memikat. Beberapa musikalisasi puisi yang dinyanyian pada tiap jeda adegan turut mengawangi imaji penonton hingga tak jenuh menunggu pergantian set panggung yang relatif lama.

Esai ini juga bisa dibaca di Denpost, 27 Mei 2018.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *