Pages Navigation Menu

Segera Evaluasi Sistem Belajar

Sering sekali saya mendapat curhat dari siswa terkait sistem belajar yang membosankan sehingga membuat siswa tidak tertarik pada mata pelajaran atau guru tertentu. Seperti misal, ada siswa yang hanya absen pada hari-hari tertentu saja dan dilakukan berulang selama satu semester berjalan. Berdasarkan keterangan siswa bersangkutan, ditemukanlah jawaban bahwa ia takut kepada guru A, pengajar mata pelajaran B. Mata pelajaran B terjadwal di kelas siswa tersebut pada tiap hari Senin jam 1-2. Sesuai catatan kehadiran, siswa tersebut memang sering absen pada hari Senin.
Untuk mewujudkan amanat UUD 1945 mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, persoalan pendidikan seperti dikemukakan pada awal esai ini hendaknya menjadi perhatian bersama. Setiap guru hendaknya terbuka terhadap kritik. Bahkan, bisa menjadi otokritik untuk saya sendiri. Hanya memang saya menyarankan masing-masing guru mengevaluasi diri apalagi terkait sistem belajar di kelas. Perubahan ke arah yang lebih baik dengan ditopang kreasi dan inovasi merupakan sebuah keniscayaan.
Saatnya mendorong munculnya praktik baik dalam sistem belajar. Sudah seharusnya para guru mengubah pola pikir terhadap ideologi pendidikan yang selama ini lazim dipahami. Bahwa pendidikan adalah untuk memerdekakan dan mengembangkan bakat dan minat, bukan memberikan batas standar pada manusia (baca: siswa).
Maksudnya, para siswa memiliki latar belakang yang berbeda tidak bisa dituntut untuk mencapai standar sama dengan cara yang sama. Standar boleh sama tetapi cara yang digunakan sebaiknya jamak. Sebab siswa adalah individu-individu yang unik.
Faktanya, standar seragam yang digunakan sering membuat siswa jenuh, tertekan hingga stres. Seperti permasalahan siswa yang saya uraikan pada awal esai ini. Saya melihat bahwa siswa bersangkutan sudah pada tahap tertekan saat mata pelajaran tertentu atau ketika diajar oleh guru tertentu. Seharusnya hal tersebut tidak terjadi andai para guru berupaya membuat siswa tertarik terhadap mata pelajaran yang diampu.
Mengajar dengan sistem “biasa” seperti hanya mengikuti instruksi buku atau hanya berlatih soal terus-menerus berdasarkan kisi-kisi ujian membuat siswa cepat jenuh. Guru harus menantang diri selalu berpikir kreatif agar setiap hari pembelajaran tidak membosankan sehingga siswa senang. Sekali-sekali, guru menggunakan media atau menjadikan siswa subjek pembelajaran yang aktif. Atau yang cukup ekstrem dilakukan di sekolah-sekolah “negeri” seperti mengubah tata letak meja, kursi, dan perangkat pendukung pembelajaran atau dengan memindahkan kelas ke tempat-tempat tertentu, misalnya taman, perpustakaan, atau pasar.
Berdasarkan penelitian Angela Duckworth, psikolog dari Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat (Kompas, 5/6/2018), kunci prestasi siswa bukanlah tingkat kecerdasan, bakat, dan infrastruktur sekolah, melainkan motivasi. Motivasi bisa muncul dalam diri siswa jika siswa tersebut menyukai mata pelajaran atau bidang tersebut. Tugas guru adalah memunculkan motivasi tersebut di kelas-kelas, pada diri masing-masing siswa.
Agar siswa termotivasi, tentu proses pembelajaran di kelas haruslah menyenangkan. Siswa bersangkutan menyenangi sekolahnya. Kehadiran guru di kelas begitu dirindukan oleh siswa. Imbasnya, siswa akan datang ke sekolah dengan motivasi yang jelas, tidak hanya menjalankan ritunitas.
Faktanya, proses pembelajaran di kelas belum membuat siswa tertarik. Hal ini tentu akan membuat tingkat kehadiran siswa menurun atau level jenuh siswa meningkat. Jika sudah begini, semangat belajar menjadi menurun dan pencapaian akademis siswa turut menurun.
Sistem belajar akan berjalan dengan baik jika sebelum pelaksanaan dirancang dulu perencanaannya, yaitu berupa RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). RPP ibarat skenario yang akan dijalankan guru di dalam kelas. Tanpa skenario atau rangcangan, kecil sekali kemungkinan guru akan dapat menjalankan proses pembelajaran dengan baik, terencana, dan terstruktur.
Bukankah sudah jelas tertulis pengertian pendidikan pada UU tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sindiknas) No. 20 Tahun 2003 Bab 1, pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Maka untuk mewujudkan pendidikan seperti ditulis pada UU tersebut, perlu adanya usaha sadar dan terencana. Terencana sesuai RPP yang telah disusun sebelumnya. Selain itu pembelajaran lebih berpusat pada kebutuhan, minat, bakat, dan kemampuan peserta didik yang berkepribadian pintar, cerdas, aktif, dan mandiri.
Langkah yang bisa dilakukan guru dalam mengawali proses pembelajaran ialah dengan memaparkan manfaat hal-hal yang dipelajari siswa bagi masa depan mereka. Berikutnya mengajak siswa mendiskusikan proses pembelajaran tiap-tiap materi. Dengan kata lain, metode belajar di kelas tidak dimonopoli guru. Guru harus mulai sering berdialog dengan siswa, minimalkan monolog di kelas. Hal ini akan membuat siswa lebih tertarik mengikuti proses pembelajaran.
Dengan mengubah sistem belajar di kelas, target utamanya yaitu penguasaan materi seperti yang ditetapkan kurikulum tetap bisa dilakukan hanya saja cara yang digunakan berbeda-beda. Harapannya, belajar di sekolah menjadi menyenangkan dan tidak ada lagi mata pelajaran yang tidak disukai, apalagi guru yang dibenci.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *