Pages Navigation Menu

Bahasa Indonesia, Fakta dan Kenyataannya

Indonesia masih terpuruk. Sejak 1945 Indonesia dinyatakan merdeka, hingga tahun ini ternyata belum benar-benar merdeka. Bangsa ini masih dijajah bahkan oleh bangsanya sendiri. Sebagian masyarakat Indonesia malu menggunakan bahasanya sendiri. Mereka menganggap bahasa Indonesia tidak keren dan lebih suka menggunakan bahasa asing.
Generasi hari ini, yang dinamai generai milenial atau kids zaman now, sangat suka menggunakan bahasa campur aduk. Seperti berkomunikasi dengan bahasa Indonesia dan Inggris dalam satu kalimat. Tren ini juga marak di kalangan pejabat yang seharusnya menjadi contoh baik bagi masyarakat. Bahkan kecenderungannya sekarang, mencampurkan tiga bahasa, bahasa Indonesia, asing, dan daerah dalam sebuah kalimat. Silakan cermati komunikasi sehari-hari generasi muda di sekitar Anda!
Mungkin karena generasi sekarang dituntut untuk berkarier hingga ke luar negeri (go internasional), mesti menguasai bahasa asing, seperti Jerman, Inggris, Spanyol, Prancis dan lainnya hingga mengesampingkan bahasa Indonesia. Ditambah dengan fakta metode pembelajaran bahasa Indonesia yang kurang menarik dan menyenangkan bagi siswa. Ini melengkapi fenomena rendahnya budaya baca buku masyarakat Indonesia.
Fakta lain, bahwa dalam Sumpah Pemuda adalah puncak kesadaran berbangsa tentang kesamaan tanah air, bangsa, dan bahasa. Seharusnya, kesadaran bersama ini menjadi momentum sejarah, menguatnya bahasa Indonesia pada generasi baru.
Kenyataannya masyarakat seakan menyepelekan bahasa Indonesia sehingga minat belajar rendah. Berjualan bahasa Indonesia tidak segampang berjualan bahasa Inggris. Hampir tidak ada orang yang membuka les bahasa Indonesia. Sebab, masyarakat merasa tidak perlu mempelajari bahasa Indonesia. Seolah semua bisa namun kenyataannya berbalik.
Mereka lebih tertarik mempelajari bahasa asing yang dirasa lebih penting dan sulit. Padahal, belajar bahasa Indonesia penting dan sulit. Cermati saja hasil UN mata pelajaran bahasa Indonesia, jarang ada siswa yang mendapat nilai 100 (nilai sempurna). Lebih jarang daripada tiga mata pelajaran lain yang juga diujikan dalam UN.
Bahkan seorang siswa berkata kepada saya bahwa belajar bahasa asing lebih membanggakan. Jika seseorang menguasai bahasa asing, maka ia bisa berkomunikasi di mana saja, di seluruh dunia. Saya mengiyakan. Namun saya prihatin, seseorang tersebut tidak akan bisa berkomunikasi dengan masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Tidak usahlah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Paling tidak berbahasa Indonesia yang baik dan tidak parah-parah amat.
Sebagian masyarakat kita lebih senang menggunakan istilah email, hastag, cancel, dan prepare. Padahal dalam bahasa Indonesia telah ada istilah surel, tagar, batal, dan bersiap-siap. Padanan kata dalam bahasa Indonesia sudah dibuat seramah mungkin untuk diucapkan. Harusnya tidak ada masalah untuk digunakan dalam komunikasi sehari-hari, baik lisan maupun tertulis.
Padanan kata tersebut telah sedemikian rupa dicocokkan dengan cara masyarakat Indonesia melafalkan kata-kata. Ingatlah bahwa kesaklekan tidak bisa diterapkan dalam bahasa. Kosakata muncul oleh konsesus manusia pemakai bahasa tersebut. Sebuah kata muncul tidak selalu oleh para ahli bahasa.
Maka jika ada kata asing yang sering digunakan, silakan masyarakat membuat kata baru atau padanan untuk kata tersebut. Kebanyakan masyarakat malas menggali kosakata baru atau mencarinya dalam kosakata yang sudah kita punya. Sebagian besar siswa saya tidak tahu “nyiur”. Padahal nyiur adalah kata bahasa Indonesia. Munculnya kata baru semacam kepo, baper, dan swafoto tentu didasari oleh fakta ini.
Mari mulai bangga dengan bahasa Indonesia. Lalu setia menggunakannya dalam komunikasi lisan maupun tulisan. Bahasa Indonesia itu sebetulnya tangkas dan indah. Bahasa Indonesia itu keren, tampak pada puisi-puisi Chairil Anwar sampai Joko Pinurbo, atau simaklah lagu-lagu komposisi grup musik Kla Project hingga Barasuara. Semua karya penyair dan musisi tersebut menggunakan bahasa Indonesia dan tidak kalah keren hasilnya daripada karya-karya berbahasa asing.
Malah, sudah banyak warga negara asing yang belajar bahasa Indonesia. Mereka begitu antusias belajar bahasa Indonesia di lembaga-lembaga pendidikan atau kursus bahasa yang ada di sini. Mungkin ini namanya gejala xenoglosofilia, kesenangan terhadap bahasa asing. Rumput tetangga tak lebih hijau dari rumput di taman sendiri, kok. Bahasa asing belum tentu lebih keren daripada bahasa Indonesia. Tergantung penyampaiannya, sudah efektif belum? Terkadang yang jelek bukan alatnya, tetapi penggunanya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *