Pages Navigation Menu

Di Piala Dunia 2018, Jerman Hanyalah Kuda Hitam

Setiap hajatan Piala Dunia, teman-teman saya pasti paling banyak mendukung timnas Jerman. Sebagian lagi bisa dipastikan mendukung timnas Brasil. Dua tim itu memang selalu menjadi unggulan. Apalagi Jerman hadir sebagai juara bertahan dan Brasil masih menjadi pemegang piala terbanyak.
Di atas kertas, kedua tim tersebut memang tidak bisa diremehkan. Meski liga lokal mereka tidak secemerlang Liga Inggris atau La Liga Spanyol. Ya, hal ini tidak bisa dijadikan acuan.
Sebelum sepak mula Piala Dunia 2018 Rusia dilakukan, saya telah memiliki analisis sendiri bahwa Jerman hanyalah kuda hitam pada hajatan tahun ini. Namun saya menunggu waktu yang tepat untuk memaparkannya kepada khalayak. Sebab, analisis ini pasti dianggap mengada-ada oleh teman-teman saya. Apalagi para pendukung Jerman.
Setelah melihat pembagian grup dan hasil laga pertama Tim Panser, saya semakin yakin terhadap analisis ini. Tim arahan Joachim Loew berada di Grup F bersama Meksiko, Swedia, dan Korea Selatan. Pada laga pertama (17/6) Die Mannschaft kalah dari Meksiko. Kali ini, Muller dkk. layak menyandang predikat kuda hitam.
Saya yakin Anda, pembaca esai ini, juga tidak setuju dengan analisis ini. Apalagi Jerman datang ke Rusia dengan modal juara bertahan, semifinalis Piala Eropa 2016, juara Piala Konfederasi 2017, dan hasil sempurna pada babak kualifikasi zona Eropa. Jika melihat 23 nama yang didaftarkan dalam turnamen, Jerman memang memiliki kedalaman skuat yang mumpuni. Kualitas yang hampir merata pada tiap lini, baik skuat utama maupun lapis kedua memang menjadi modal bagus bagi sebuah tim untuk menjadi juara.
Jerman memang memiliki modal yang bagus untuk mengarungi kompetisi dunia empat tahunan ini. Saya tidak meragukan kualitas pemain senior macam Sami Khidera, Thomas Muller, atau Mesut Ozil. Kualitas alumni Piala Konfederasi 2017 seperti Timo Werner juga tidak bisa diremehkan. Begitu pula Mario Gomez, Matthias Ginter, dan Julian Draxler, tiga pemain senior yang pasti akan memiliki peran penting dalam tim.
Anda pasti heran, mengapa saya tetap memasukkan Jerman ke dalam tim kuda hitam? Ini berarti mereka saya sejajarkan dengan Belgia atau Maroko. Sebagian teman saya malah sudah mengatakan analisis saya adalah lelucon yang tak lucu.
Saya yakin, pada helatan kali ini Jerman pastas dimasukkan ke dalam pot kuda hitam. Sebelumnya, saya sempat mencari definisi kuda hitam pada KBBI edisi keliam versi daring. Di sana tertulis bahwa kuda hitam adalah peserta pertandingan (perlombaan) yang semula tidak diperhitungkan akan menang, tetapi akhirnya menjadi pemenang. Bahkan, sekarang istilah kuda hitam tidak hanya digunakan dalam bidang olahraga, tetapi juga politik.
Merujuk definisi tersebut, saya merasa sepakat Jerman selalu ada pada posisi kuda hitam, dalam turnamen empat tahunan ini. Pada helatan Piala Dunia sesungguhnya Jerman bukanlah apa-apa di mata fans sepak bola dunia dibandingkan Brasil, Argentina, Italia, Belanda, Spanyol, atau Prancis. Namun, mereka membuktikan bisa juara sampai empat kali.
Joachim Loew sesungguhnya sempat pusing tujuh keliling memilih 23 nama untuk diberangkatkan ke Rusia. Sebagian fans malah tidak setuju dengan beberapa pilihan pemain yang ada pada daftar. Misalnya, mengapa Gomez masih diikutsertakan atau Leroy Sane dicoret dan digantikan Julian Draxler.
Saya yakin ini pilihan yang penuh pertimbangan. Sebab, Jerman pemegang predikat juara bertahan. Meski pilihan pemain melimpah, Loew mengira perlu mempertimbangkan pengalaman dan kesesuaian dengan taktik. Masih ingat, mengapa pemain gaek macam Klose masih dipanggil pada 2014? Maka ia sebisa mungkin memilih skuat yang membuat dirinya nyaman dan percaya diri menghadapi laga demi laga di Rusia.
Meski begitu, segala yang telah diperhitungkan Loew tidak selalu berjalan sesuai harapan. Bisa dilihat pada laga pertama kontra Meksiko. Misalnya Joshua Kimmich yang digadang-gadang sebagai suksesor Philipp Lahm di posisi bek sayap kanan malah terlalu menyerang. Ini membuat lini kanan belakang terbuka lebar. Sami Khidera juga terlalu pelan, entah karena usia atau apa, sehingga tak bisa menggantikan peran Kimmick ketika terlambat turun.
Secara keseluruhan Jerman bermain kacau pada laga perdana. Draxler tak terlihat seperti pemain berpengalaman. Hampir semua pemain terlihat lamban dan kurang kerja keras. Jika ini berlanjut, bisa-bisa Jerman tak lolos penyisihan grup, atau paling banter sampai 16 besar.
Ilustrasinya begini, setelah kalah lawan Meksiko, mereka akan seri kontra Swedia, dan menang lawan Korea Selatan. Dengan empat poin, cukup membawa Jerman berada di posisi dua di bawah Meksiko. Selanjutnya Jerman akan kalah lawan Brazil pada babak 16 besar. Sebagai runner up grup F, Jerman akan bertemu juara grup E, yaitu Brazil.
Saya kira, unggulan ataupun kuda hitam pada sebuah kompetisi hanyalah akal-akalan bandar judi. Koefisien FIFA tidak bisa digunakan sebagai acuan kesuksesan tim dalam sebuah kompetisi. Jadi pada Piala Dunia 2018 ini, Jerman cocoknya di pot kuda hitam.
Juara Piala Dunia 2018 masih terbuka bagi negara mana saja, apalagi saat ini masih fase grup. Namun selama bola masih bundar dan wasit dibantu oleh teknologi garis gawang dan video assistant referee (VAR), semua masih bisa terjadi.

Esai ini juga bisa dibaca di tatkala.co

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *