Pages Navigation Menu

Memilih Jagoan di Piala Dunia 2018 Layaknya Memilih Istri

Bagi sebagian orang, gelaran Piala Dunia menjadi penuh berkah. Mulai dari para penjual bendera peserta di pinggir jalan, toko daring penjual jersey KW super, atau para pejudi musiman yang muncul empat tahun sekali. Namun jangan sekali-kali konyol dalam bertaruh judi sepak bola, apalagi menyangkut tim-tim di Piala Dunia. Apalagi untuk bertaruh tim-tim Piala Dunia 2018 ini, tidak cukup hanya bermodal wanen dan sugih. Anda harus memikirkan banyak hal sebelum akhirnya yakin bertaruh untuk sebuah tim.
Teman saya, Budi (bukan nama sebenarnya) telah kalah ratusan ribu gara-gara menjagokan tim Jerman dan Brasil. Jerman dikalah Meksiko dan Brasil ditahan Swiss. Tanpa analisis mumpuni, tentu teman saya akan kalah terus menerus. Hingga partai final, bisa saja dia sampai menjual motor, karena kalah taruhan terus.
Banyak fans sepak bola lupa bahwa perjalanan sebuah tim dalam kompetisi seperti Piala Dunia tidak bisa hanya ditentukan oleh nama besar dan kualitas skuat. Banyak hal yang perlu dianalisis seperti, faktor pelatih, taktik yang digunakan, dan lawan-lawan yang akan dihadapi. Layaknya memilih calon istri, Anda tak bisa hanya mempertimbangkan kecantikan dan kecintaan terhadap calon istri Anda itu, namun analisis juga lingkungan keluarga dan orang tua mereka. Orang-orang tua bilang, babat, bebet, bobotnya juga.
Saya berikan ilustrasi, mengapa Jerman yang memiliki kedalaman skuat bagus malah keok menghadapi Meksiko. Tim dengan predikat juara bertahan ini, pada Piala Dunia 2018 kehilangan sosok seperti Philipp Lahm, Franz Beckenbauer , Michael Ballack, atau Gerd Muller. Pelatih Joachim Loew juga tampak kebingungan dengan susunan pemain yang harus diturunkan menghadapi laga perdana itu. Maka tidak heran hasil pertandingan kontra Meksiko mematahkan rekor mereka yang selalu menang di laga pembuka pada tujuh edisi Piala Dunia terakhir.
Formasi awal 4-3-3 lalu berubah menjadi 4-2-3-1 yang lebih solid dalam bertahan digunakan Meksiko setelah unggul juga memengaruhi hasil pada laga tersebut. Sayangnya, Joachim Loew tidak merespon dengan baik, malah tetap berusaha mendominasi pertandingan dengan penguasaan bola. Parahnya lagi, para pendukung Jerman masih yakin dengan cara bermain seperti itu akan membuat tim mereka tetap menguasai dunia.
Apakah Jerman masih layak untuk dijagokan dalam taruhan? Silakan cek kondisi terakhir para pemain, lawan, dan formasi yang kira-kira akan digunakan pada laga berikutnya. Tentu saja tetap berdoa agar para pemain tidak melakukan hal-hal bodoh seperti penalti, gol bunuh diri, atau kartu merah.
Jika ada yang mengajak taruhan dan Anda memegang Belgia, tidak ada alasan untuk pesimis. Di grup G, Belgia hanya melawan Inggris, Panama, dan Tunisia. Meski tanpa Radja Nainggolan, Belgia tetap layak diperhitungkan. Ingat, saat ini mereka peringkat ke-3 FIFA (Juni 2018). Koefisien FIFA kadang-kadang perlu digunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan menggertak lawan taruhan.
Selain karena mereka memiliki banyak pemain bertalenta, pelatih bagus, taktik 4-3-3 yang fleksibel, dan bertanding tanpa tekanan. Duet maut Hazard dan Lukaku adalah kunci. Dua pemain dari dua klub yang berseteru ini akhirnya mau berdamai untuk negara mereka. Apapun hasilnya, mereka tetap akan bergembira. Mereka tidak punya beban. Fans mereka juga tidak menuntut target tinggi.
Yang paling tidak saya sarankan untuk dijadikan dukungan taruhan malah timnas Inggris. Sebab mereka secara konsinten selalu tampil mengecewakan. Ketika mereka memiliki talenta ajaib seperti Beckham dan Rooney saja, tim Tiga Singa tetap tak berdaya di kompetisi besar macam Piala Dunia. Apalagi di Piala Dunia 2018 Rusia ini, Inggris dipimpin oleh pemuda minim pengalaman, Gareth Southgate. Semasa aktif bermain pun, karier Southgate biasa-biasa saja. Ia sempat kalah bersaing dengan Alan Shearer di Palace. Pengalaman melatih pun hanya di Middlesbrough dan tim junior timnas Inggris.
Jangan terlena dengan hasil mereka pada laga perdana lawan Tunisia. Meski Tunisia rangking tertinggi negara Afrika yang berlaga di Piala Dunia 2018, tentu bukan lawan seimbang buat Inggris. Jangan juga menggunakan hasil kualifikasi sebagai acuan. Inggris selalu ngelawak di kompetisi utama dan selalu serius di kualifikasi. Sebenarnya, tim yang dibawa Southgate ke Rusia cukup menjanjikan. Keberadaan Kyle Walker membuat fans cukup tenang sepeninggal Neville bersaudara dan Rio Ferdinand.
Kemenangan 2-1 atas Tunisia berkat taktik aneh bin ajaib 3-3-2-2 (penyesuaian dari 3-5-2) yang tentu saja tidak bisa diterapkan terus pada tiap laga. Mereka juga telah meninggalkan formasi 4-4-2 yang melegenda. Tidak ada lagi kick and rush dalam permainan Inggris. Sebab tak ada pemain macam Beckham lagi di sana. Untung kapten Harry Kane berhasil menciptakan dua gol. Lawan berikutnya hanya tim sekelas Panama.
Di Piala Dunia 2018 ini, hanya Arab Saudi dan Panama yang kualitas skuatnya jauh dibandingkan peserta lain. Nah, tentu bisa ditebak mengapa Rusia bisa menang besar pada laga perdana? Ada yang malah menjagokan Rusia? Jangan gegabah! Mereka belum berhadapan dengan tim besar.
Nasib timnas Inggris akhirnya berada di tangan tim kuda hitam, Belgia. Jikapun lolos ke babak 16 besar, Inggris harus siap bertemu tim-tim kejutan di grup H. Pelatih macam Erikson dan Capello saja gagal, apalagi anak baru macam Southgate.
Spanyol baru saja ganti pelatih. Perlu diragukan kiprah mereka pada gelaran tahun ini. Argentina dan Portugal memiliki pelatih yang bagus, taktik fleksibel, meski hanya menonjolkan Messi dan Christiano Ronaldo. Brasil memiliki generasi emas dan pelatih brilian, kesuksesan mereka di Rusia bergantung pada gaya rambutnya Neymar.
Mengapa tidak coba menjagokan Iran? Mereka punya pelatih dengan gaya seperti Indra Safri, atau Islandia dengan taktik nan efisien. Asal jangan dukung Belanda dan Italia saja ya. Mereka tak ikut serta dalam Piala Dunia kali ini, sama seperti Indonesia. Padahal tiga tim ini adalah unggulan dalam jagat sepak bola dunia di mata fans masing-masing.
Jangan juga lupakan faktor X berupa wasit dan teknologi canggihnya. Bukankah Prancis dan Swedia sukses atas bantuan video assistant referee (VAR)? Lalu, siapa yang layak dipegang agar menang dalam taruhan? Analisis sendiri, kalau menang juga Anda tidak akan bagi-bagi, kan? Hehehe.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *