Pages Navigation Menu

Dua Prosa Liris

Pulang Mendengar Kicau Burung

Semakin sering aku pulang, kicaumu makin lantang. Di antara kerumunan peristiwa, memanggil-manggilku datang. Siapa yang kau ajak bernyanyi hari ini? Kau tak beri isyarat, hanya munculkan bayang lampau. Namun, samar kurasa aroma kabar pahit, disembunyikan beribu menit. Menelusuri batas waktu di laut luas tak terperi. Kutemukan kembali dirimu dalam rona cakrawala.
Ada sunyi pada kicau pertamamu. Dengan syarat kepak sayap menyala darah. Entah karena robek sayatan embun kemarau bulan Mei. Saat bangku dingin tersipu malu dan langit subuh memegang sembilu. Karena memanggilkan luka. Perih di hati kini merajalela. Menjaga jarak dengan pohon tua. Yang dulu akrab, yang susah payah meniti ingatan. Untungnya raut danau tampak menyimpan banyak kicaumu.

(2018)

Green field and a lonely tree

Penghakiman

Seekor bekicot berjalan pelan melewati daun-daun keladi yang lebar. Selebar dunia yang ia tempati sendiri. Melangkah ia pelan. Dengan perasaan masih sama, tak sedikitpun menyerah. Ia terus maju. Sebab mundur berarti kalah. Kalah sama dengan hancur.
Ia tak pernah bertanya. Ia menyerahkan letih pada hamparan luas daun-daun yang dilewati. Meski pelan, ia tetap harus berjalan. Menuju ujung daun itu. Untuk menemui matahari yang ia rindukan.
Dalam perjalanannya, ia kerap bersenandung tentang mitos warisan nenek moyang. Dinyanyikan begitu merdu, begitu lugu. Semua suka mendengar senandungnya. Begitu bijak, dalam, menyusup hingga dalam nadi. Pada salah satu bagian, ia berkata. “Sebab suatu kebahagiaan, apabila dunia menolakmu karena kau berasal dari surga.” Sambil melanjutkan mili demi mili lembar daun itu. “Hidup di dunia hanya sementara,” pekiknya usai tiba di ujung sana.

(2018)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *