Pages Navigation Menu

Ruang-ruang untuk Perempuan

Ruang-ruang untuk Perempuan

“Catatan Pentas Menu Masa Depan”

Di dunia nyata, para perempuan seakan tidak mendapat panggung. Maka penting untuk menciptakan ruang bagi perempuan, atau sekadar memberi ruang untuk mereka. Inilah yang coba dilakukan dalam pentas kedua Perempuan Mahima dari Komunitas Mahima Singaraja.
Pentas berjudul Menu Masa Depan dihadirkan oleh Perempuan Mahima dari Komunitas Mahima (29/6) di Guntur Corner, Jl Buluh Indah No 51X Denpasar. Pementasan yang seluruhnya digarap oleh perempuan ini haruslah diapresiasi setinggi-tingginya. Sebab tak banyak yang bersedia memberikan ruang bagi perempuan sebagai “ujung tombak” sebuah lakon, baik di dunia nyata maupun di panggung pentas. Sebab, perempuan selalu ada pada posisi yang tak nyaman.
Dianggap bersalah, ditolak oleh lingkungan, dan merasa tidak berhak hidup di lingkungan sosial, dan seterusnya kerap dirasakan oleh sebagian kaum perempuan. Penilaian terhadap perempuan tersebut selalu muncul dari individu atau kelompok yang memiliki power. Hal ini sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Sebab power terbesar muncul dari masyarakat. Pelakunya bisa oleh laki-laki atau perempuan. Ini berarti, hidup yang diibaratkan sebuah restoran tidak benar-benar memberikan pilihan yang bebas bagi perempuan. Layaknya saat memilih menu di sebuah restoran, kadang tidak bisa sebebas-bebas sesuai kehendak. Berbanding terbalik dengan para laki-laki.
Menjadi perempuan seakan sebuah kutukan, sejak lahir telah dibungkus stigma. Pola pikir yang dibentuk oleh masyarakat pun tidak menguntungkan bagi para kaum hawa. Jika Anda perempuan, maka haruslah menggunakan pakaian tertutup. Bila Anda perembuan dan memakai rok, hendaknyalah memakai celana rangkap di dalamnya. Ketika Anda menjadi perempuan korban pelecehan, berarti kesalahan terletak pada Anda bukan pelaku. Begitulah sedikit pola pikir masyarakat Indonesia yang konservatif ini.
Jika di dunia nyata, para perempuan enggan bersuara, di dunia panggung Perempuan Mahima berani melakukannya. Terlepas dari wacana besar yang (mungkin) melatari gagasan dan akhirnya melahirkan sebuah pementasan, upaya ini layak diapresiasi. Tiga perempuan dihadirkan dalam sebuah pentas dan menyuarakan keresahan sebagian perempuan di dunia nyata.
Pementasan ini menampilkan tiga perempuan bermonolog dengan karakter masing-masing. Putri Puspita menjadi TKW, Ernawati menjadi penari joged, dan Devy Gita menjadi pelacur. Ketiga perempuan ini tampil di panggung yang berbeda-beda, namun bertalian satu sama lain.
Apa yang ada di benak Anda ketika berhadapan dengan perempuan yang bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW), penari joged bumbung, dan pelacur? Hampir dipastikan, penilaian-penilaian negatif meluncur deras memenuhi kepala masing-masing. Ini tentu pola pikir yang terbentuk oleh suatu lingkungan sosial masyarakat. Saya tegaskan, tidak ada masalah dengan tiga pekerjaan tersebut. Sebab mereka pun menjalani pekerjaannya dengan profesional. Melekatkan stigma terhadap para perempuan TKW, penari joged, dan pelacur tentu tidak bisa ditoleransi.
Perempuan memiliki hak yang sama di ruang publik. Kalau seorang perempuan memilih menggunakan pakaian tertutup, kemben, atau rok mini atas kehendak sendiri, tentu tidak ada seorang pun berhak melarang. Jika seorang perempuan memilih tidak menggunakan pakaian tertutup, kemben, atau rok mini atas kehendak sendiri, tentu tidak ada seorang pun berhak memaksa. Begitu pula ketika seorang perempuan menjadi TKW, penari joged, dan pelacur, tidak ada seorang pun berhak meremehkan mereka. Namun yang terjadi, stigma dan sanksi sosial kerap diberikan masyarakat kepada perempuan yang berani mengambil pekerjaan demikian.
Keputusan seseorang menjadi TKW, penari joged, dan pelacur tentu bukan sebuah pilihan yang tanpa didasari alasan kuat. Apakah TKW, penari joged, dan pelacur adalah pekerjaan yang salah? Tentu saja tidak. Menjadi TWK adalah bentuk tanggung jawab seorang perempuan (istri) bagi keluarga atau kehidupannya sendiri. Sebab tidak hanya suami yang bisa menjadi tulang punggung. Jika para suami tidak bisa diandalkan, bergeraklah. Meski mungkin saja akan mendapat pandangan sinis.
Penari joged selalu penuh prasangka yang terlampau negatif. Padahal para penari joged telah turut andil dalam pelestarian budaya yang selalu dikoar-koarkan oleh pemerintah. Sayangnya, masyarakat memiliki standar ganda untuk para penari joged. Mereka senang menonton pementasan joged namun tak mengapresiasi penarinya bahkan menganggap rendah mereka.
Menjadi pelacur tentu sebuah pilihan sulit ketika pola pikir masyarakat masih begitu primitif. Bagi saya, pelacur menyadari betul potensi diri mereka. Menjadi pelacur bisa jadi sebuah pilihan yang berdaulat. Toh juga penawaran tersedia karena ada permintaan bukan?
Tidak semua perempuan menjadi pelacur karena butuh uang. Bisa jadi mereka menjadi korban perdagangan manusia. Pertanyaan yang cukup menggelitik di kepala saya setelah menonton pementasan ini adalah, mungkin saja menjadi istri pun bisa jadi digolongkan pelacur. Sebab, para istri menjaja tubuhnya sebagai ganti mendapatkan perlindungan suami.
Pementasan ini menarik sebab mencoba menghadirkan pentas monolog di sebuah kedai. Ini membuktikan bahwa sebuah lakon teater bisa dipentaskan dimana saja. Pada pentas ini aktor memanfaatkan setiap sudut ruang kedai, mulai dari teras, meja biliar, sofa, dan pantri. Sayangnya, panggung belum dimaksimalkan dengan sewajarnya. Keberadaan tata lampu warna-warni dalam pentas tampak tidak berfungsi maksimal. Entahlah, mungkin mata minus saya merasa tidak terlalu nyaman dengan warna-warni kontras semacam itu.
Kemenarikan lain dari pentas ini adalah munculnya usaha kolaboratif antara pemilik kedai dan Perempuan Mahima hingga melahirkan pentas Menu Masa Depan. Kolaborasi ini entah kebetulan atau tidak dilakukan seluruhnya oleh perempuan. Jika Anda menonton pementasan ini, akan muncul kepercayaan bahwa perempuan bisa melakukan apa saja, layaknya laki-laki, jika diberikan ruang.
Segala kemungkinan kolaborasi antar komunitas, lintas profesi, dan seterusnya penting untuk selalu dipikirkan. Memang akan menjadi sebuah usaha yang berat namun tentu memiliki efek yang jauh lebih luas. Tentu gagasan yang hendak disuarakan bisa diterima lebih luas pula.
Tiga karakter, yaitu TKW, penari joged, dan pelacur dimunculkan dengan beragam interpretasi dialog, gerak, dan puisi. Namun, tampak para aktor belum benar-benar menjiwai masing-masing karakter yang diperankan. Perlu kiranya melakukan riset lebih lanjut sehingga para aktor bisa menghadirkan TKW, penari joged, atau pelacur seperti yang harus mereka perankan. Misal melalui cara berjalan, atau intonasi suara ketika berbicara. Ini tentu membuat segala gerak dan dialog oleh para aktor akan lebih bermakna.
Sebuah pentas akan memunculkan gagasan baru, pertimbangan lain, serta sudut pandang berbeda dari para penonton. Terlepas dari itu, gagasan yang ingin disampaikan relatif sampai di benak masing-masing penonton. Pentas selanjutnya dimulai di kepala masing-masing penonton. Kegamangan akan masa depan dari tiga karakter (disimbolkan melalui TKW, penari joged, pelacur) perempuan pada pentas berhasil ditampilkan dalam sebuah panggung.
Tiga perempuan yang ditampilkan dalam panggung oleh Perempuan Mahima adalah perenpuan-perempuan yang merdeka. Semua pekerjaan memiliki banyak sisi yang bisa ditilik. Di dalam hidup, siapapun berhak memilih menu apa yang akan mereka pilih, bukan? Tentunya tanpa stigma yang menyertainya.

Esai ini juga dimuat Tribun Bali, 1 Juli 2018

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *