Pages Navigation Menu

Nendang Penalti itu Berat, Biar Harry Kane Saja

Pada sebuah momen, Gareth Southgate, pelatih timnas Inggris sempat berkata, “(penalti) itu bukan keberuntungan. Bukan juga tentang kesempatan. Adu penalti adalah tentang kemampuan menguasai diri di bawah tekanan. Banyak yang bisa Anda lakukan untuk menguasai diri di momen itu (adu penalti), bukan malah dikuasai momen tersebut”.
Maklum saja, Southgate pernah mengalami trauma dengan adu penalti. Ia ingat betul perasaan mual yang menyeruak ke kerongkongan ketika penjaga gawang Jerman, Andreas Kopke berhasil menghalau tembakannya dari titik 12 pas. Itu terjadi saat semifinal Piala Eropa 1996. Ia menjadi satu-satunya eksekutor Inggris yang gagal menunaikan tugas hingga timnya tersingkir.
Setelah 22 tahun, mantan manajer Middlesbrough ini berhasil membayar hutangnya kepada rakyat Inggris. Tim Tiga Singa di bawah asuhannya berhasil lolos dari adu penalti lawan Kolombia pada babak 16 besar Piala Dunia 2018 ini. Tentu saja banyak fans merasa berbahagia, begitu pula sebagian fans keheranan.
Semua sudah tahu bahwa skuat The Three Lions sangat payah dalam urusan adu penalti. Meski mereka pernah punya pemain sekaliber Gary Lineker atau David Beckham. Dari 7 kali adu penalti di turnamen besar, Piala Eropa dan Piala Dunia, mereka hanya menang sekali, yaitu pada perempat final Piala Eropa 1996. Khusus di Piala Dunia, pada 3 kesempatan sebelumnya mereka selalu gagal. Maka, ketika mereka akhirnya berhasil memenangi adu penalti saat melawan Kolombia (4/7) kemarin, tidak heran para fans kembali meneriakkan “football’s coming home”.
Berbicara penalti, Piala Dunia 2018 cukup banyak melahirkan penalti. Sampai babak 16 besar selesai Piala Dunia 2018 sudah melahirkan 16 penalti. Tentu saja tidak semua berhasil dikonversikan menjadi gol. Ronaldo (Portugal), Messi (Argentina), dan Cueva (Peru) adalah beberapa pemain yang gagal menjaringkan bola melalui titik putih. Jedinak berhasil (2 kali) dan Harry Kane (3 kali) menjadi pemain yang sejauh ini paling sukses dalam mengeksekusi penalti.
Selain itu, sudah tercatat 8 buah gol bunuh diri terjadi. Bisa dibayangkan betapa Piala Dunia 2018 menjadi tidak seru dengan begitu banyaknya penalti dan gol bunuh diri. Belum lagi tidak lolosnya tim-tim besar macam Argentina, Spanyol, Portugal, dan Jerman ke babak selanjutnya. Apalagi dengan adanya video assistant refree (VAR) menambah semakin banyak menghadirkan penalti. Anehnya, kehadiran teknologi VAR dan goal line technology (GLT) malah tidak mengurangi pelanggaran yang terjadi di lapangan.
Menendang penalti tidak segampang yang orang-orang kira. Tim yang mendapat hadiah penalti belum tentu bisa selalu melahirkan gol. Pemain sekelas Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo saja gagal mengeksekusi penalti di Piala Dunia 2018 ini. Hanya Harry Kane yang sejauh ini selalu sukses menjaringkan bola ke gawang lawan melalui penalti.
Untuk menentukan delapan tim yang lolos ke perempat final saja, sudah ada tiga pertandingan yang pemenangnya harus ditentukan dengan adu penalti: Rusia kontra Spanyol, Kroasia kontra Denmark, dan Kolombia kontra Inggris. Spanyol, Denmark, dan Kolombia kemudian menjadi kesebelasan yang merasakan pedihnya kekalahan lewat adu penalti.
Semua tim tampaknya meniru Inggris yang benar-benar mempersiapkan diri jika dalam pertandingan mendapat hadiah penalti atau adu penalti. Sebab, nendang penalti itu berat. Babak delapan besar akan mempertemukan juara dunia empat kali (dua kali Piala Dunia dan dua kali Olimpiade) Uruguay melawan juara Piala Dunia 1998, Prancis. Laga berikutnya akan mempertemukan tim paling sukses di Piala Dunia, Brasil versus tim kuda hitam Belgia. Kemudian, keesokannya runner-up Piala Dunia 1958, Swedia akan menantang juara Piala Dunia 1966, Inggris. Selepas itu, laga terakhir babak perempat final mempertemukan tuan rumah Rusia kontra semifinalis Piala Dunia 1998, Kroasia. Setiap tim bisa saja terjungkal hanya gara-gara penalti.
Sudah terbukti, di Piala Dunia Rusia 2018 ini, sebuah tim tidak cukup hanya memiliki satu dua pemain bintang yang menjadi andalan. Namun, sebuah tim harus memiliki pemain-pemain yang siap dan memiliki ketangguhan kolektif untuk sama-sama berjuang meraih kemenangan. Lihatlah Argentina dan Portugal yang hanya mengandalkan Lionel Messi dan Ronaldo. Begitu pula Spanyol yang hanya bermain bagus jika Iniesta turun di lapangan. Untung saja Brasil memiliki Cautinho dan Frimino yang bermain bagus sepanjang laga. Jika hanya mengandalkan Neymar seorang, tentu nasib Tim Samba akan sama dengan tiga tim besar itu.
Di perempat final kali ini, tidak ada tim yang lemah. Cek sepak terjang Rusia, Belgia, dan Swedia, yang mungkin jadi tim paling lemah di antara delapan tim. Rusia adalah tuan rumah, mereka memiliki pemain kedua belas yang tak bisa dianggap remeh. Tim Belgia dihuni pemain-pemain yang sudah tersebar di liga-liga besar Eropa, seperti Lukaku dan Hazard. Swedia, lebih mengerikan lagi. Merekalah yang menyebabkan Belanda dan Italia gagal mentas di Piala Dunia Rusia 2018. Mereka juga yang membuat Jerman pulang lebih awal.
Jangan tanya kekuatan Uruguay, Prancis, Brasil, Inggris, dan Kroasia. Mereka memiliki kolektifitas yang bagus dalam sebuah tim. Tanpa dibarengi dengan strategi mumpuni, tentu saja persiapan untuk menendang penalti, bisa jadi perjuangan mereka sejak babak penyisihan akan sia-sia.

esai ini juga bisa dibaca di tatkala.co

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *