Pages Navigation Menu

Dualisme dalam Simbol ‘Sekala Niskala’

Posted by on Mar 20, 2018 in film | 0 comments

Produser : Kamila Andini, Gita Fara Sutradara : Kamila Andini Produksi : fourcoours film, Tree Water Productions Rilis : 8 Maret 2018 Gendre : Drama Rating : Remaja Sebagai guru, saya sehari-hari menghadapi sejumlah siswa dengan cara pikir dan latar belakang berbeda. Tentu ini menjadi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah menjelaskan gagasan yang rumit bahkan sangat rumit dalam cara atau bahasa yang sederhana. Bahkan amat sederhana. Hal ini tentu tidak gampang, namun juga tidak mustahil dilakukan. Dengan persoalan yang sama, tapi pada medium yang berbeda tampaknya berhasil dilakukan oleh Kamila Andini pada film panjang keduanya, Sekala Niskala (The Seen and Unseen). Perempuan muda ini tampaknya banyak dibicarakan sebab telah melahirkan sebuah film yang tidak biasa. Sebab gagasan yang disampaikan dalam film cukup rumit namun disajikan dengan sederhana, sehingga bisa dinikmati oleh masyarakat luas. Bahkan mendapat apresiasi yang tidak seikit...

Read More

CTS: Komedi Penuh Pesan Moral

Posted by on Dec 29, 2016 in film | 0 comments

Akhir tahun adalah momen yang tepat untuk flashback/merenungi hidup. Jika begitu, tidak ada salahnya mencoba merenungi hidup dengan cara komedi. Ini yang disuguhkan Cek Toko Sebelah (selanjutnya ditulis CTS) film kedua karya Ernest Prakasa. Sejak Ernest muncul di SUCI, saya memang sudah tertarik dengan konten komedi yang dia sajikan di panggung. Selanjutnya keresahan-keresahannya ini disajikan dalam medium buku dan film. Ia punya satu pesona yang memang datang dari diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Lalu ditebalkan lagi sehingga keresahan-keresahan tersebut bisa dinikmati oleh lebih banyak orang. Bahkan ada banyak keresahan yang memang sangat pribadi (bagi Ernest) dan bahkan tanpa kita sadari, kita juga alami, diantarkan dengan sangat baik kepada kita, sebagai audiens. Ya satu kata, Ernest adalah komika yang jenius. CTS bahkan jauh lebih bagus daripada Ngenest. Tampaknya ekspektasi para penonton tercapai. Bahkan ada yang mengatakan bahwa CTS akan bersaing...

Read More

Hangout: Menertawakan Pembunuhan

Posted by on Dec 29, 2016 in film | 0 comments

Jika kamu punya waktu luang di akhir tahun ini, coba tonton Hangout sebuah film terbaru karya Raditya Dika. Apalagi untuk yang ingin sejenak melupakan kepenatan hidup dan kekroditan pekerjaan. Hangout tepat sebagai markas untuk berkumpul dan tertawa lepas, meski menertawakan pembunuhan sekalipun. Seperti biasa, Raditya Dika selalu menemukan bagian yg lucu dari kejadian sehari-hari. Saya mengira lelucon-lelucon yang muncul di film Hanghout ini adalah kegelisahan dari masing-masing tokoh dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dalam film Hangout, memang masing-masing tokoh memerankan diri mereka sendiri. Mungkin ada yang bilang, ih kok kehidupan sehari-hari dibawa ke film sih? Ya di sanalah letak kelucuan film ini. Anekdot-anekdot tersebut tampaknya memang sengaja diramu dalam film. Dan hasilnya memang lucu. Kehebatan Radit dalam penulisan skenario semakin terlihat saat lelucon-lelucon personal antar tokoh, yang bahkan (sebenarnya) mereka saja yg mengerti, berhasil membuat seisi teater tertawa. Perihal lucu...

Read More

Tenggelam dalam Snowden

Posted by on Oct 11, 2016 in film | 0 comments

Beberapa hari belakangan, aku agak sibuk dengan pekerjaan. Hal ini membuat aku ingin sedikit relaksasi. Me-refresh otak agar lebih segar. Tampaknya memang perlu. Lalu aku menjatuhkan pilihan pada menonton. Karena aku tak punya cukup waktu untuk pergi tamasya, misalnya. Tampaknya ada banyak pilihan film seru di bioskop. Pekan ini, bioskop tempatku menonton menayangkan beberapa film menarik. Diantaranya, Warkop DKI Reborn (wow, film ini masih diputar), Ada Cinta di SMA (tentu aku tak memilih film ini karena takut dikira fedofil diantara dedek-dedek gemes berseragam sekolah), Pete’s Dragon (entah kenapa aku tak tertarik dengan film macam ini), Miss Peregrinnes (gambar posternya terlalu seram) dan Snowden (tampaknya cocok dengan pakaianku yang ke bioskop sepulang kerja, masih dengan pakaian kerja). Akhirnya aku memilih Snowden. Filmnya akan mulai sekitar 25 menit lagi. Tak apa, aku menunggu sambil menyandarkan punggung di sofa empuk lobi bioskop....

Read More

KOALA KUMAL: MENERTAWAKAN PATAH HATI

Posted by on Jul 6, 2016 in artikel, film | 0 comments

Apakah kalian pernah patah hati? Bagaimana rasanya? Menangis mungkin salah satu yang dilakukan saat mengalami patah hati. Sebuah cerita patah hati, tidak melulu sedih. Koala Kumal, film terbaru Raditya Dika menceritakan patah hati dari sudut komedi. Apakah cerita dalam film ini adalah kisah pribadi Radit? Saya tidak yakin sepenuhnya! Koala Kumal adalah film komedi penuh motivasi. Mengambil cerita tentang tokoh bernama Raditya Dika yang patah hati. Raditya Dika berperan sebagai Raditya Dika. Seorang penulis yang gagal menikah, padahal undangan pernikahan sudah disiapkan. Hal ini membuat ia tidak fokus menulis. Karena patah hati inilah buku yang ditulis tidak selesai dikerjakan, padahal batas penyetoran naskah sudah dekat. Seperti film-film Radit sebelumnya, dalam film ini juga menampilkan aktris cantik. Sebut saja Sheryl Sheinafia (Trisna), Acha Septriasa (Andrea), serta PaoPao (gadis perampok dengan bantal Hello Kitty). Dalam film Koala Kumal ini menampilkan banyak...

Read More

NGENEST: NGETAWAIN HIDUPNYA ERNEST

Posted by on Jan 7, 2016 in artikel, film | 0 comments

Sejak pertama kemunculan Ernest Prakasa di stand up comedy Kompas TV sudah menarik perhatianku. Dengan materi-materi seputar Cina, bagiku Ia bawa kesegaran dalam dunia komedi. Setelah stand up, Ernest ternyata menulis buku. Sekali lagi, ini menarik. Bisa dihitung dengan jari berapa komika (sebutan untuk pelaku stand up comedy) yang “berani” menulis buku. Lalu setelah buku, Ia membuat film yang diadaptasi dari tiga buku yang sudah ditulis itu. Dengan judul sama, #NGENEST. Aku benar-benar dibuat penasaran. Aku pun menunggu filmnya tayang. Akhir Desember 2015, #NGENEST baru tayang perdana. Jika tidak salah di Bali baru tayang Januari 2016. Dari empat bioskop yang ada di Bali, cuma satu bioskop yang menayangkan film ini kala itu. Aku segera menontonnya. Sempat terhalang kesibukan kerja, akhirnya aku bisa juga menonton film ini juga. Film ini cerdas. Ceritanya “padat” dan “berisi”. Terlihat Ernest adalah “Cina tulen”....

Read More