Pages Navigation Menu

Karena Dia Perempuan

Posted by on May 10, 2018 in cerpen | 0 comments

Menjadi perempuan tidak pernah mudah, khususnya di Bali. Kerap kali para perempuan mendapat keraguan dan perlakuan yang berbeda oleh masyarakat terhadap kemampuan mereka. Meski begitu, perempuan harus membuktikan kemampuan mereka. Bahkan perlakuan berbeda didapat perempuan oleh perempuan lain. Biasanya oleh para perempuan yang merasa “memiliki kuasa” terhadap perempuan lain yang lebih “lemah”. Banyak di antaranya mengalami berbagai macam kekerasan. Sebab pihak yang seharusnya memberikan rasa aman dan keadilan pun berlaku diskriminatif kepada perempuan. Persoalan demi persoalan dihadapi perempuan karena atribut jendernya. Maka perlu peran serta laki-laki dan perempuan untuk memutus rantai ketidaksetaraan jender ini. Sistem patriarki yang masih kental dianut masyarakat di Bali membatasi ruang gerak perempuan. Mulai dari pembedaan perlakuan hingga menghambat bahkan memutus karier hanya karena pelekatan peran atau pekerjaan berbasis jender, seperti administrasi atau kesekretariatan. Status di keluarga juga menjadi kendala. Posisi perempuan dan istri dalam...

Read More

Nenek

Posted by on Jun 5, 2015 in cerpen | 0 comments

Di dekat pohon jepun, Nenek menghentikan langkahnya, menelusuri batang, dahan, serta ranting yang bulat bergerigi sampai ke pucuk. Bunga jepun putih ini tak pernah malas mekar. Batang bambu yang selalu digunakan untuk mengait kuntum-kuntum bunga bersandar di salah satu dahan. Nenek dan pohon jepun bagai sejoli yang sedang melepas rindu. Senyum merekah keduanya seperti dua kekasih yang lama terpisah. Entah sudah berapa ratus bunga yang telah Nenek petik dari pohon itu. Mungkin sejak aku belum lahir. Karena saat aku lahir, pohon jepun ini sudah berdiri gagah di sebelah merajan, setidaknya begitu cerita perempuan kurus ini. Pohon ini masih seperti dulu, berseri dan selalu menyapa ramah setiap orang yang akan memetik bunganya. Pohon ini tak pernah berhenti berbunga. Bila satu bunga dipetik, Ia akan menumbuhkan sepuluh bunga baru. Nenek selalu membalas budi kebaikan pohon jepun dengan memberikan sesajen pada Tumpek...

Read More

Tahun Baru

Posted by on Jan 1, 2013 in cerpen | 0 comments

Pagi ini aku sengaja bangun lebih awal. Aku bangun lebih pagi untuk melihat matahari yang terbit pagi ini, apakah sama atau beda. Ternyata sama dengan matahari pagi kemarin. Lalu apa yang ditunggu oleh orang-orang kemarin? Apa yang dirayakan oleh orang-orang kemarin? Sungguh aneh. Aku mengingat berdebatan seruku dengan Made kemarin. Kata orang ini tahun baru. Aku mengiyakan saja. Aku malas berdebat tentang ini. Lalu aku mengganti kalender lamaku dengan kalender yang terbaru, dan menempelnya pada dinding kamar. Ada tulisan 2013 ukuran cukup besar. “Cukup kan?” “Tidak sepolos itu”, sangkal Made. “Tahun baru harus kau sambut dengan suka cita, dengan meriah. Ada tradisi. Kita harus melakukan ritual menyabut tahun baru.” “Lalu apa” “Kamu pernah mendengar bagaimana tradisi menyambut tahun baru di belahan bumi lain?” “Tidak” Temanku mulai bercerita panjang lebar tentang tradisi tahun baru. Sepertinya dia sangat suka perayaan ini,...

Read More

Masih Pagi, Tapi Rindumu Sudah Menggenang Di Atas Cangkir Kopi?[i]

Posted by on Feb 3, 2012 in cerpen | 0 comments

Gelap ketika aku meneguk kenangan. Sudah hilang memang. Tapi aku mengais-ngais kenangan dalam gelap. Siapa tahu masih ada yang lekat di sana. Ketika gelap aku membutuhkan cinta. Cinta yang lain. Semua berawal ketika kita ditempatkan dalam ruang kerja yang sama. Kamu rekan kerja baruku. Kamu satu, mungkin yang terindah, dari segelintir wanita yang ada di sekitarku. Kamu, aku rasa ketika itu, percikan embun pagi saat kemarau dalam hatiku. Jutaan wanita memang berkeliaran dan seringkali membuatku liar saat melewati setiap detik bersama. Selain kamu, juga ada Aya dan Irene yang merasakan suasana baru di tempat ini, sama denganmu. Aku tak pernah meraba-raba, tapi benar-benar rasanya berbeda. Aku merasakan! Pertemuan itu memang tak pernah aku agendakan. Kamu terkejut, aku takjub. Mungkin juga kita pernah bertemu sebelumnya, karena kamu sudah berada di tempat yang sama denganku sejak beberapa waktu yang lalu. Tapi...

Read More

Bendera

Posted by on Jan 26, 2012 in cerpen | 0 comments

“Berkali-kali aku bilang, bahwa aku tak pandai menulis puisi, tapi karena aku mencintai kekasihku, maka aku akan meminta tolong pada pujangga untuk membuatkan puisi.” Sudah aku bilang, aku tak lihai merangkai kata-kata indah yang mampu menyayat hati merah muda kekasihku, jadi aku tak akan pernah mengiriminya surat cinta dibungkus amplop berwarna pink.” “Bukannya kamu pandai merangkau kata hingga para pendengarmu dan pembaca karya-karyamu begitu terhipnotis setelah mengunyah-ngunyah karya-karyamu?” “Ia, tapi aku tak pandai menulis puisi. Aku juga bukan pria yang romantis. Aku tak biasa memberikan surat dan puisi kepada kekasihku. Aku mencintai mereka apa adanya. Tak pernah aku berbohong soal hati”, seloroh Gus Tu meyakini Pradnya. “Tapi aku akan mengalir ketika kamu memintaku bercerita tentang bendera.” “Bendera?” “Ia. Bendera! Ada yang aneh?” “Heemmm…tidak, ceritakan, Gus!” Gus Tu mulai bercerita. Ketika itu, Aku sedang berlibur di rumah Nenek di Desa...

Read More

Nafsu

Posted by on Dec 18, 2011 in cerpen | 0 comments

Coba cek arti kata nafsu di KBBI. Pasti akan ditemukan definisi keinginan, dorongan hati yg kuat untuk berbuat kurang baik dan gairah. Semua definisi itu mempunyai konteks negatif. Dan benar saja, sebuah nafsu akan berujung pada perbuatan terlarang. Terlarang secara hukum nasional, hukum adat, serta hukum agama. Jika sudah begini, jangan sekali-kali menamai anak anda dengan kata ini jika tidak ingin menyesal seumur hidup. Nafsu menjadi aktor yang lekat akhir-akhir ini. Nafsu begitu bergelora sepanjang tahun. Nafsu, seorang remaja usia 16 tahun membuka mata semua orang akan menggeloranya sebuah nafsu di masa puber. Nafsu usia 16 tahun ini begitu lihai merayu. Kata-katanya begitu puitis layaknya anak Gibran. Para Hawa tak sanggup menepis rayuan itu hingga terjerembab ke kawah nafsu milik Nafsu, remaja puber usia 16 tahun ini. Hawa keluar dan masuk dari kamar kos Nafsu. Entah berapa hawa telah...

Read More